JABAR EKSPRES – Puluhan rumah di Desa Cintaasih, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB), kembali mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah yang terus berkembang di wilayah tersebut.
Kepala Desa Cintaasih, Deden Iban Saiban, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengatakan dinding dan lantai sejumlah rumah warga mengalami retakan, sementara beberapa bangunan sudah tidak layak huni.
“Kerusakan terparah terjadi di Kampung Gadung. Dampaknya cukup luas dan terus berkembang,” ujar Deden saat dikonfirmasi, Jumat (21/11/2025).
Baca Juga:Cuaca Ekstrem Perparah Pergerakan Tanah di Cipongkor, BPBD KBB: Kawasan Ini Harus DirelokasiBencana Pergerakan Tanah di Rongga KBB Makin Parah, 60 KK Harus Mengungsi
Ia menyebut kondisi terparah berada di satu RT di Kampung Gadung. Jika sebelumnya tercatat 30 rumah terdampak, jumlahnya kini bertambah menjadi sekitar 40 rumah.
Sebagian penghuni, kata Deden, memilih mengungsi ke rumah kerabat karena khawatir dengan keselamatan mereka.
“Warga ada yang pindah sementara karena kondisi rumah makin mengkhawatirkan,” katanya.
Selain retakan pada dinding dan lantai, pergerakan tanah juga menyebabkan beberapa bangunan miring dan terancam roboh. Bahkan satu rumah telah diratakan oleh pemiliknya karena dianggap terlalu berbahaya untuk ditempati.
Bahkan di lokasi yang sama, lanjut dia, sebuah jembatan kecil yang menjadi akses menuju permukiman baru juga runtuh.
“Jadi memang perlu ada tindakan dari pemerintah daerah juga, kami khawatir dampak dari bencana ini terus meluas,” katanya.
Badan Geologi bersama sejumlah pihak telah melakukan kajian di lokasi. Dari hasil sementara, pergerakan tanah dipicu kontur wilayah yang labil dan semakin diperparah curah hujan yang tinggi. Selain itu, aliran air dari pipa warga yang terus mengalir sepanjang hari diduga menambah tingkat resapan tanah.
Baca Juga:Mitigasi Pergerakan Tanah di Cimahi, BPBD Ungkap Ini PenyebabnyaAncaman Nyata, Pergerakan Tanah Purwakarta Hanya 1 Km dari Tol Cipularang
“Air hujan ikut melemahkan struktur tanah. Ditambah aliran air dari pipa warga yang terus mengalir 24 jam, membuat kondisi semakin rentan. Hampir seluruh rumah berada di area tebing dan dataran tinggi,” jelasnya.
Pemerintah desa telah menyelesaikan pendataan rumah terdampak dan merekomendasikan agar seluruh warga yang tinggal di satu RT di Kampung Gadung direlokasi demi menghindari risiko bencana yang lebih besar.
“Seluruh warga di RT tersebut harus dipindahkan. Kami sudah survei tiga lokasi calon relokasi. Warga berharap tempatnya tidak jauh dari permukiman asal karena terkait pekerjaan mereka,” ungkapnya.
