Dalam waktu bersamaan, seluruh Penggerobak didaftarkan ke BPJS Ketenagakerjaan agar memiliki perlindungan kerja. Pendekatan ini disebut sebagai regulasi yang memanusiakan, karena menyeimbangkan antara ketertiban operasional dan kesejahteraan pekerja lapangan.
Situasi darurat TPA Sarimukti menjadi alarm besar bagi daerah-daerah penyangga seperti Cimahi. Pembatasan tonase membuat ruang gerak pemerintah makin sempit sehingga kebijakan pengolahan mandiri menjadi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Chanifah menegaskan bahwa tanpa partisipasi masyarakat, seluruh upaya struktural tersebut tidak akan mampu mengimbangi laju produksi sampah harian.
Baca Juga:Sampah Menumpuk di Selokan, DLH Cimahi Akui Sosialisasi Belum OptimalAncaman Baru di Cimahi, Lonjakan Sampah Terjadi Gegara Program MBG
“Sampahmu adalah tanggung jawabmu. Mari pilah sampah dari rumah. Ini membantu menjaga kelestarian lingkungan dan mencegah persoalan besar di kemudian hari,” tegasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan sistem baru ini sangat ditentukan oleh kepatuhan warga dalam memilah sampah sejak dari sumber, karena di titik inilah beban terbesar dapat dikurangi.
“Dengan pengelolaan wilayah yang diperkuat, penataan Penggerobak, hingga revitalisasi SPA Sangkuriang, Cimahi kini memasuki fase baru pengelolaan sampah fase yang menuntut kesadaran kolektif untuk mencegah krisis persampahan yang lebih besar,” tandasnya. (Mong)
