Viral!! Anak-Anak Jadi Target Rekrutmen Teroris Lewat Media Sosial dan Game Online 

Viral!! Anak-Anak Jadi Target Rekrutmen Teroris Lewat Media Sosial dan Game Online 
Viral!! Anak-Anak Jadi Target Rekrutmen Teroris Lewat Media Sosial dan Game Online 
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri kembali mengungkap kasus mengejutkan terkait aksi terorisme di Indonesia. Kali ini, jaringan terorisme diketahui memanfaatkan media sosial dan game online sebagai sarana untuk merekrut anak-anak serta pelajar. Temuan ini menegaskan bahwa platform digital kini menjadi pintu masuk baru bagi kelompok radikal dalam menjaring korban yang masih berusia muda.

Juru Bicara Densus 88 Antiteror, AKBP Mayndra Eka Wardhana, mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu satu tahun terakhir, pihak kepolisian telah mengamankan lima tersangka dewasa terkait kasus ini. “Dalam setahun ada 5 tersangka dewasa,” ujarnya dalam konferensi pers di Mabes Polri pada Selasa, 18 November 2025.

Lebih mencengangkan lagi, dari tangan para tersangka, terungkap bahwa sebanyak 110 anak dan pelajar telah direkrut sepanjang tahun 2024–2025. Jumlah ini menunjukkan betapa agresif dan terstrukturnya cara kerja jaringan tersebut dalam memanfaatkan dunia digital untuk menyebarkan paham radikal.

Baca Juga:Jadwal SIM Keliling Bandung Hari Ini 20–22 November 2025, Cek Lokasi dan Syaratnya8 Motor Listrik Terbaik untuk Touring 2025: Tenaga Gahar, Jarak Tempuhnya Jauh dengan Harga Wajar

Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, memaparkan bagaimana metode perekrutan ini dilakukan. Prosesnya berlangsung secara bertahap dan sangat tersusun:

1. Platform Terbuka

Perekrut terlebih dahulu menyebarkan propaganda di berbagai platform publik seperti:

  • Facebook
  • Instagram
  • Game online

Pada tahap ini, konten dibuat sangat menarik bagi remaja, seperti:

  • Video pendek
  • Animasi
  • Meme
  • Musik dengan muatan ideologis

Konten tersebut dirancang untuk membangun kedekatan emosional dan menumbuhkan rasa penasaran dari target.

2. Kontak Pribadi

Setelah melihat calon target yang berpotensi, para perekrut kemudian menghubungi mereka secara personal melalui aplikasi yang lebih tertutup seperti:

  • WhatsApp
  • Telegram

Di sinilah proses indoktrinasi dilakukan secara lebih intensif dan terarah.

Dari pengungkapan sejauh ini, lima tersangka yang ditangkap ialah FW alias YT (47), LM (23), PP alias BMS (37), MSPO (18), dan JJS alias BS (19).

Baca Juga:Buruan Klaim Saldo DANA Gratis hingga Rp600.000 Sebelum Kehabisan!Mulai 2026! Tabel Angsuran KUR BRI: Cocok untuk Pemula, Cicilan sangat Ringan di Rp400 Ribuan saja

Perekrutan anak-anak bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga ancaman serius bagi perkembangan mental, emosional, dan sosial mereka. Berikut bahaya yang mengintai:

1. Perubahan Pola Pikir dan Perilaku

  • Pola pikir hitam-putih: menganggap segala sesuatu hanya benar atau salah secara ekstrem.
  • Muncul antipati terhadap aturan sekolah maupun keluarga.
  • Menolak keberagaman dalam agama, budaya, maupun pilihan hidup.
  • Mulai menghakimi teman yang berbeda keyakinan.
0 Komentar