Ia menuturkan, banjir di desanya sudah berlangsung sejak seminggu lalu dengan ketinggian sempat mencapai dada orang dewasa dan menerjang jalan raya. Meski kini air sudah surut, genangan setinggi lutut orang dewasa masih membuat sawah tidak bisa diakses dan dipulihkan.
Menurutnya, akar masalah banjir langganan ini adalah irigasi yang mengalami pendangkalan parah dan memerlukan perbaikan menyeluruh, bukan sekadar tambal sulam. Ia pun meminta pemerintah segera turun tangan dengan solusi yang konkret. “Saya berharap pemerintah serius menangani ini biar petani tidak jadi korban,” ujarnya.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ciamis pada pertengahan Juni 2025 menunjukkan skala kerusakan yang masif dan mengkhawatirkan. Setidaknya 839 hektare sawah di Kecamatan Lakbok terendam, yang berdampak langsung pada 164 kepala keluarga.
Baca Juga:Banjir Terjang Area Safari Journey, Taman Safari Bogor Buka SuaraCegah Banjir, Pemprov Jabar Percepat Penataan Daerah Aliran Sungai
Lebih luas lagi, sebanyak 2.511 kepala keluarga pemilik lahan pertanian di tujuh desa yang tersebar di dua kecamatan, Lakbok dan Purwadadi, turut menjadi korban dan menanggung beban kerugian yang tidak ringan.
Nasib serupa dan tak kalah pilu dialami oleh petani di Kabupaten Pangandaran. Banjir menerjang ratusan hektare sawah di Kecamatan Padaherang dan Kalipucang, yang juga merupakan kejadian berulang setiap musim hujan.
Para petani hanya bisa pasrah menyaksikan tanaman mereka hancur, hanya sebagian kecil yang berhasil diselamatkan dengan susah payah. Yadi, seorang petani di Padaherang, menyatakan keputusasaannya.
“Untuk padi milik saya tidak bisa dipanen karena terendam banjir. Hanya sebagian yang bisa diambil. Kalau sudah surut mungkin bisa dicoba lagi, tapi tidak tahu kapan surutnya. Ada yang sudah tinggal panen, tapi mau bagaimana lagi, sudah terendam banjir,” ujarnya.
Banjir di Pangandaran disebabkan oleh luapan Sungai Citanduy yang tidak lagi mampu menampung debit air hujan yang tinggi. Harapan akan intervensi pemerintah semakin mendesak, mengingat Padaherang merupakan salah satu lumbung padi utama di Kabupaten Pangandaran.
Tanto, petani lain di wilayah Ciganjeng, Padaherang, yang sawahnya selamat, justru mengonfirmasi besarnya kerugian yang diderita rekan-rekannya.
“Banjir sudah hampir satu minggu, dan kemungkinan padinya sudah tidak bisa diambil atau dikonsumsi. Di Ciganjeng saja ada sekitar 300 hektare sawah terendam dengan kerugian mencapai miliaran rupiah,” katanya.
