JABAR EKSPRES – West Java Investment Summit (WJIS) nampaknya cukup menjadi magnet bagi investor. Belum resmi dimulai tapi sejumlah sudah mulai membuat Nota Kesepahaman (MoU) investasi.
Dari catatan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTS) Provinsi Jawa Barat, setidaknya sudah ada 13 MoU investasi. Nilainya tembus Rp 14,6 triliun.
“Itu baru angka sementara, nanti akan bertambah seiring pelaksanaan event,” jelas Kepala DPMPTSP Jabar Dedi Taufik, Selasa (11/11).
Baca Juga:Ultimatum Praktik Premanisme di Kawasan Industri, Kapolda Jabar Siap Tindak Tegas!Diduga Terlibat Korupsi Proyek Jalan Lingkar Timur, Sekdis OPD di Kabupaten Kuningan Ditahan Polda Jabar
Dedi melanjutkan, event WJIS bisa dibilang sebagai pemantik. Pemprov tidak hanya mengandalkan event itu saja dalam menjaring investor ke Jabar.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, Pemprov juga telah melakukan berbagai upaya agar Jabar makin ramah investor. Hal tersebut terlihat dari berbagai kebijakan dan program pembangunan yang dilakukan.
Misalnya mulai dari upaya mempermudah perizinan dan pengembangan kawasan industri,termasuk berbagai pembangunan infrastruktur guna meningkatkan konektifitas dan akses antar daerah.
“Konektivitas itu penting dalam roda ekonomi. Ini sangat mendukung,” jelasnya.
Langkah lain misalnya dengan berbagai kebijakan yang pro investasi, misalnya dengan satgas anti premanisme.
“Premanisme hingga pungli juga dibereskan. Ini agar ramah investor,” cetusnya.
Dari PJU Bandung sampai LRT, hingga CNG Subang
Karena itu, WJIS juga memiliki target besar dalam memikat investor. Total ada 104 proyek yang ditawarkan, dengan taksiran investasi tembus Rp 186,29 Triliun.
Baca Juga:Polda Jabar: Lisa Mariana dan Pria Bertato Tersangka Kasus Video Syur BI Jabar Sebut Ekonomi Tumbuh Tapi Pengangguran Meningkat, Kok Bisa?
Beberapa proyek itu di antaranya, PJU Kota Bandung senilai Rp1,175 triliun sebagai bagian dari program Bandung Caang Utama dengan pemasangan 48.470 lampu hemat energi. Ada pula PJU Pangandaran Rp68 miliar yang mendukung keamanan wisata.
Lalu proyek LRT Bojongsoang–Tegalluar senilai Rp16 triliun sebagai solusi transportasi massal modern di Bandung Raya. Berikutnya dari sektor agribisnis, ada proyek SINTAS di Tasikmalaya senilai Rp12,14 miliar yang mengembangkan industri gula aren.
Berikutnya Pertanian Organik Terintegrasi di Sumedang senilai Rp139,8 miliar, hingga Pabrik Tepung Jagung “Jaguarmill” di Garut Rp191,2 miliar dan Pabrik Pakan Silase Rp189 miliar.
Yang tak kalah menarik terdapat proyek Zero Waste Mangosteen Factory di Purwakarta Rp76,8 miliar. Lalu TOD Pondok Cina – Co-Working Space di Depok Rp7,94 miliar, hingga pengembangan kawasan BIJB Kertajati yang meliputi Aerospace Park Rp2,63 triliun. Ada juga E-Commerce Hub senilai Rp1,35 triliun, dan Mixed Use Commercial Area Rp1,54 triliun.
