Yang Merekah di Desa Wisata Mekarlaksana

Pemandu wisata atau tour guide dari Desa Wisata Mekarlaksana bersama para pelajar saat edukasi pertanian
Pemandu wisata atau tour guide dari Desa Wisata Mekarlaksana bersama para pelajar saat edukasi pertanian dan persawahan, di Kampung Cilopang, Desa Mekarlaksana, Kabupaten Bandung, Kamis (30/10). (Muhamad Nizar/Jabar Ekspres).
0 Komentar

Termasuk menarik perhatian BI Jabar melalui implementasi Program Implementasi Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah (PI-KEKDA). Ia mengatakan, para pegiat Desa Wisata Mekarlaksana lantas mendapatkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), serta penambahan fasilitas sarana prasarana.

“2024 akhir, alhamdulillah kami dapat binaan dari BI. Sebagai salah satu binaan desa wisata edukasi. Difasilitasi dalam segi hal sertifikasi tur konsultan, dan tour guide, alhamdulillah kami dikasih pengembangan SDM,” tuturnya.

Sejumlah fasilitas umum di wilayah perkemahan Padaringan Highland, Desa Wisata Mekarlaksana pun diberikan BI Jabar. Seperti didirikannya beberapa gazebo sampai pemberian dua toilet umum.

Baca Juga:Lebih Pintar Tapi Tak Laku, Gen Z Jadi Pengangguran Terbanyak di JabarInvestasi Deras, Tenaga Kerja Seret: Pengangguran Jabar Tembus 1,78 Juta Orang

“Sekarang 2025 juga kami dapat binaan BI. Dari pemakaian QRIS di desa wisata, serta pelatihan-pelatihan untuk petani kopi. Di sini ada kopi trip. Paket kopi trip, menyusuri dari hulu sampai hilir mengolah kopi itu gimana sih prosesnya, supaya petani juga sama (diberi pembekalan),” imbuh Gunawan.

Membangun Wisata Berbasis Masyarakat

Pada mulanya, warga desa menilai, konsep desa wisata adalah membangun ruang di pedesaan. Lalu semacam destinasi wisata yang di dalamnya berisi kegiatan wirausaha warga, termasuk mendapatkan modal. Gunawan menampik itu semua, ia kembali menjelaskan nilai dari konsep desa wisata.

“Desa wisata seperti ini. Saya jelaskan. ‘Mau gak bapak itu berbicara di depan pengunjung? Menceritakan tentang otak-otak? Tentang menyulam kain lap dan tentang kesenian? Bapak gak usah ke sana, ibu gak usah ke sini. Nanti kami datang ke sini,’” ungkapnya menirukan ajakan kepada warga desa.

Kisah selanjutnya, warga desa mengakui, potensi yang dimiliki mereka amat besar. Gunawan tak jarang mendapatkan pertanyaan, “Kapan ada kunjungan lagi, kang?” dari pegiat wirausaha, kerajinan tangan, hingga pegiat kesenian. Hal ini cukup beralasan, lantaran pegiat yang dilibatkan menerima honorarium sebagai pembicara disaat berhadapan dengan wisatawan.

Pariwisata berbasis masyarakat lantas tumbuh di sana. “Karena warga sudah tau, gitu kan. Ketika ada kunjungan pasti barang dia laku dan berkali lipat lakunya dari harga yang biasa aja. Kepercayaan diri. Seperti homestay kan, homestay juga sama. ‘Kapan ada lagi?’,” jelas Gunawan.

0 Komentar