Dapur MBG di Parakan Batununggal Ditolak Warga Lantaran Ganggu Lingkungan, Pengelola: Belum Beroperasi!

Dapur MBG di Parakan Batununggal Ditolak Warga Lantaran Ganggu Lingkungan, Pengelola: Belum Beroperasi!
Spanduk penolakan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) terpasang di Perumahan Parakan, Kelurahan Batununggal, Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung, Senin (10/11). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Sekretaris Yayasan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Parakan Batununggal, Baban, memastikan dapur yang menjadi polemik di lingkungan RT 4 RW 2 Kelurahan Batununggal, Kecamatan Bandung Kidul, belum beroperasi.

Dia menyebut pembangunan dapur MBG itu masih dalam tahap awal dan belum mendapat izin penuh dari Balai Gizi Nasional (BGN).

“Dapur tersebut belum beroperasi. Pembangunan baru dimulai pada Oktober 2025 dan masih memerlukan proses panjang sebelum disetujui oleh Balai Gizi Nasional (BGN),” kata Baban saat dihubungi melalui telepon, Senin (10/11).

Baca Juga:Warga Batununggal Tolak Dapur MBG: Banyak Efek Negatifnya!Cegah Kasus Keracunan Berulang, Dinkes Bandung Barat Percepat SLHS Dapur Program MBG

Baban menjelaskan, penolakan sebagian warga terjadi karena kesalahpahaman dalam komunikasi di tahap awal. Menurut dia, mediasi pertama sempat menghasilkan izin dari pengurus lingkungan.

“Hanya memang, pada saat awal ada penolakan itu pada saat ada mediasi, oleh pak RW diizinkan, memang awalnya ada salah persepsi, kita menyampaikan bahwa yayasan yang didorong untuk membangun dapur ini adalah balai zakat shodaqoh,” ujarnya.

Dia mengatakan proses mediasi dengan warga masih berlangsung. Pertemuan terakhir digelar pada Sabtu, 8 November 2025, namun belum mencapai kesepakatan. Dalam pertemuan itu, warga menyampaikan keluhan terkait kebisingan, pengelolaan sampah, dan pagar bangunan.

“Contoh kekhawatiran soal kebisingan, aktivitas hanya dilakukan di siang hari. Sebetulnya kalau di sana itu lebih bising oleh aktivitas jalan raya,” kata Baban.

Terkait pengelolaan sampah, dia menegaskan bahwa pengelola dapur telah menyiapkan sistem pengolahan limbah sesuai petunjuk pelaksanaan dan teknis program MBG. Sosialisasi juga telah dilakukan kepada warga sekitar.

“Kemudian soal pengolahan sampah, justru kehadiran kita berusaha ada manfaat. Kalau yang tadinya di situ ada manfaat tentang pengolahan sampah harus dengan hadirnya dapur bisa ikut mengurai. Jadi kalau ada sampah warga yang menumpuk di situ bisa jadi bisa keangkut,” ucap Baban.

Dia menekankan, keberadaan dapur MBG justru diharapkan memberi dampak positif bagi warga sekitar, bukan sebaliknya. “Gimana caranya dapur MBG ini kan satuan layanan, jadi harus benar-benar jadi pelayan dan memberikan manfaat yang bukan saja bagi penerima manfaat tapi juga warga sekitar,” kata dia.

0 Komentar