JABAR EKSPRES – Dalam menghadapi potensi bencana alam yang kian meningkat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) nampaknya akan segera melakukan berbagai langkah.
Salah satu langkah yang akan dilakukannya, menurut Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, bahwa pemerintah provinsi (pemprov) bakal membangun sebuah radar sebagai alat pendeteksi dari potensi bencana alam.
“Karena selama ini nggak punya radar (pendeteksi bencana). Jadi di 2026, kita Pemda Jabar akan memiliki radar,” kata Demul sapaannya belum lama ini.
Baca Juga:Pembangunan PLTA Upper Cisokan Dipastikan Sesuai Aturan dan Bawa Manfaat bagi MasyarakatPabrik Pengelolaan Sampah Senilai USD 200 Juta Bakal Dibangun di Jawa Tengah!
Demul mengungkapkan, radar yang nantinya akan dibangun di tahun 2026 tersebut cukup penting dilakukan. Sebab berdasarkan catatan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), bencana alam di Jawa Barat sepanjang tahun 2025 ini telah mencapai sebanyak 1.277 kejadian yang didominasi akibat cuaca ekstrem.
“Sehingga Jabar nantinya akan memiliki kelengkapan dalam membaca seluruh fenomena situasi. Dan semua ini berasal dari anggaran pemerintah Provinsi Jawa Barat yang kita melakukan realokasi dengan tepat, belanja dengan tepat, penghitungan dengan tepat, walaupun ada pemotongannya juga tepat,” ungkapanya
Maka dengan adanya rencana ini, Demul berahap potensi bencana alam di Jawa Barat dapat ditangani dengan tepat dan maksimal.
“Mudah-mudahan lelangnya bisa dilakukan secepatnya,” Imbuhnya
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat (Jabar), mengaku telah melakukan pemetaan daerah rawan bencana saat puncak musim penghujan berlangsung.
Dikatakan Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Jabar, Teten Ali Mulku Engkun, berdasarkan kajian resiko bencana yang dilaksanakannya, daerah rawan bencana saat puncak musim penghujan tersebut saat ini berada di wilayah selatan dan tengah Jawa Barat.
“Kita sudah ada kajian resiko bencana, sudah dipetakan juga daerah-daerah mana saja (yang rawan). untuk hidrometeorologi seperti banjir dan longsor, itu lebih banyak di Jawa Barat selatan dan tengah,” katanya saat ditemui di Gedung Sate, Kota Bandung, Rabu (5/11) Kemarin.
