Jika Sumpah Pemuda dibaca ulang secara jujur, maka isu generasi muda hari ini adalah persoalan kesehatan publik, bukan sekadar nasionalisme. Kesehatan berarti kapasitas bertahan secara biologis, mental, sosial, spiritual, dan digital. Anak muda kini dipaksa menjadi dokter, konselor, ahli gizi, dan pakar keamanan data bagi dirinya sendiri, tanpa dukungan sistem yang memadai.
Inilah paradoks besar generasi kita, teknologi medis semakin maju, tapi infrastruktur pendamping tertinggal. Remaja bisa memesan tes genetik atau skincare aktif setara klinik, namun panik dan kebingungan sendiri. Tubuh menjadi proyek desain, wajah menjadi produk, dan identitas berubah menjadi komoditas. Maka, pertanyaannya: apa arti Sumpah Pemuda bila tubuh para pemuda justru dikomodifikasi?
Dalam ilmu kedokteran dasar kita belajar konsep homeostasis, kemampuan tubuh menjaga keseimbangan. Kini, generasi muda butuh homeostasis identitas, kemampuan menjaga diri di tengah kebisingan sosial. Mereka perlu berani berkata: “Ini nilai saya, ini ritme saya, dan tubuh saya bukan mesin konten.” Itulah Sumpah Sehat Pemuda 6.0.
Baca Juga:Menko PMK: Stunting dan TBC jadi Permasalahan Mendasar KesehatanWapres Ikut Cek Kesehatan Gratis di Puskesmas Menteng
Di titik ini, nanoimmunobiotechnomedicine terasa relevan, menggambarkan tantangan baru generasi muda. Bidang nanoimmunobiotechnomedicine, “Nano” bicara soal terapi presisi; “immuno” tentang perlindungan tubuh terhadap infeksi dan stres; “bio” tentang kehidupan yang harus dirawat, termasuk luka mental; “techno” tentang AI dan big data kesehatan; “medicine” tentang pelayanan manusiawi yang tak boleh tunduk pada algoritma.
Pertanyaan moralnya jelas: siapa yang mendapat akses dan siapa yang tertinggal? Tidak ada gunanya kemajuan medis jika hanya dinikmati kelompok kaya, sementara pekerja muda dan buruh kota tak sempat istirahat. Tak ada artinya startup kesehatan digital jika data pribadi pengguna dijual sebagai aset iklan.
Dalam imunologi ada istilah toleransi imun, yaitu kemampuan tubuh menerima hal yang tidak berbahaya agar tidak menyerang diri sendiri. Bangsa juga membutuhkan toleransi sosial agar tidak saling merusak karena perbedaan. Kekerasan digital — ujaran kebencian, perundungan daring — adalah bentuk inflamasi sosial yang berdampak langsung pada tubuh: stres, gangguan tidur, dan peradangan.
