Meski Timbul Banyak Persoalan, Teknologi Whoosh Si Kereta Cepat Tetap Patut Diapresiasi  

Meski Timbul Banyak Persoalan, Teknologi Whoosh Si Kereta Cepat Tetap Patut Diapresiasi  
Ilustrasi: Petugas berdiri disamping pintu kereta cepat Whoosh beberapa waktu silam. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Keberadaan transportasi umum Whoosh si Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB), harus benar-benar bisa membuktikan kemanfaatan.

Pemerhati Transportasi, Muhamad Akbar mengatakan, meski dibayangi persoalan keekonomian, sisi lain Whoosh justru mencatatkan prestasi.

“Di balik berbagai sorotan kritis, mutu layanan Whoosh justru patut diacungi jempol,” katanya kepada Jabar Ekspres, Rabu (29/10).

Baca Juga:Tak Hanya Timbulkan Kerugian, Hadirnya Whoosh Banyak Melahirkan Dampak NegatifPemerhati Transportasi Nilai Whoosh Kurang Menggiurkan: Cepat tapi Tak Praktis!

Lintasan 142 kilometer Whoosh memangkas waktu tempuh menjadi 45 menit, untuk perjalanan Jakarta-Bandung dengan kecepatan hingga 350 kilometer per jam.

Menurut Akbar, meski banyak sorotan dan persoalan, sisi lain keberadaan Whoosh tetap menjadi sebuah lompatan teknologi yang patut dibanggakan.

“Kenyamanan kabin yang senyap, desain kursi yang ergonomis, hingga ketepatan jadwal menjadi penanda baru standar transportasi darat Indonesia,” bebernya.

Tak kalah penting, ujar Akbar, kesigapan awak dan keandalan operasional KCJB, membuktikan kemampuan negeri ini dalam mengelola teknologi mutakhir setara kelas dunia.

“Dalam persepsi publik, Whoosh telah melampaui wujudnya sebagai sekadar kereta cepat,” ujarnya.

Akbar menerangkan, di balik prestise nasional tersebut, terselip pertanyaan mendasar, menurutnya bisakah kecepatan tinggi Whoosh, berujung pada sesuatu yang lebih penting dan keberlanjutan.

“Tak sekadar soal ketangguhan teknologi, melainkan juga manfaat ekonomi dan jangkauan sosialnya bagi masyarakat,” terangnya.

Baca Juga:Dianggap Proyek Ambisius, Whoosh Si Kereta Cepat yang Belum TepatPolemik Utang Whoosh hingga Adanya Pembengkakan Biaya, Komisi V DPR: Harus Dikaji Ulang!

Sebab, Akbar menilai, infrastruktur kelas dunia hanya bermakna apabila benar-benar terhubung dengan kebutuhan yang sesungguhnya dibutuhkan warganya.

Diketahui, proyek pembangunan KCJB yang dimulai pada Januari 2016 itu, tercatat mulai beroperasi secara komersial pada Oktober 2023 lalu.

Setelah rampung dan dua tahun beroperasi, persoalan pun muncul, di antaranya PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mengklaim, terus mengalami kerugian triliunan rupiah.

Oleh karenanya, kerugian tersebut jadi beban keuangan BUMN-BUMN Indonesia yang jadi pemegang saham mayoritas.

Kerugian ini terjadi karena KCIC harus menanggung beban utang, selama proses pembangunan hingga lahirnya sang kereta cepat bernama Whoosh.

Akbar menjelaskan, Whoosh muncul bukan karena adanya krisis transportasi Jakarta-Bandung, melainkan dari dorongan untuk membuktikan bahwa Indonesia setara dengan bangsa-bangsa maju pemilik kereta cepat.

“Pencapaian teknologinya memang patut diapresiasi. Whoosh menjelma menjadi simbol harapan bagi layanan publik yang lebih berkualitas,” jelasnya.

0 Komentar