Menuju Zero Bullying, Kota Bandung Masih Tertahan di Predikat 'Madya' Kota Ramah Anak

Menuju Zero Bullying, Kota Bandung Masih Tertahan di Predikat \'Madya\' Kota Ramah Anak
Pelajar SD menunjukan tulisan stop bullying di gawainya saat Deklarasi Kota Bandung Menuju Zero Bullying di SDN 113 Banjarsari, Kota Bandung, Rabu (29/10). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota Bandung kembali mendeklarasikan komitmennya menuju zero bullying. Namun di balik seremoni tersebut, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui bahwa upaya mewujudkan Bandung sebagai Kota Ramah Anak masih jauh dari kata tuntas.

Hingga kini, Bandung baru menyandang predikat Kota Ramah Anak tingkat Madya, belum mampu naik ke level Utama.

“Pencapaian zero bullying di Kota Bandung memang bukan hal yang mudah. Saat ini kita baru mencapai predikat Kota Ramah Anak tingkat Madya, dan masih ada tingkat Utama yang belum kita capai. Namun, kita terus berproses menuju ke sana,” ujar Farhan seusai kegiatan deklarasi Bandung Menuju Zero Bullying, Rabu (29/10/2025).

Baca Juga:Gunung Es HIV/AIDS di Bandung: Farhan Sebut Kasus Riil Bisa Capai 70 Ribu OrangViral! Gara-Gara Tatapan Mata, Geng Motor Zestier Ngamuk dan Serang Gym di Bandung

Pernyataan itu menjadi sinyal jujur sekaligus kritik terhadap kinerja Pemkot Bandung sendiri. Sebab, setelah bertahun-tahun menggaungkan kampanye perlindungan anak, posisi Bandung justru stagnan di level menengah, menandakan belum adanya percepatan signifikan dalam kebijakan, pendidikan, maupun penegakan perlindungan anak di lapangan.

Diakui Farhan, Kegiatan deklarasi Bandung Zero Bullying ini penting sebagai momentum reflektif baik bagi pemerintah maupun masyarakat.

“Walaupun bersifat seremonial, momentum ini penting untuk kembali menggaungkan dan mengingatkan seluruh masyarakat bahwa Kota Bandung harus selalu menjadi kota yang ramah terhadap anak-anak,” ucapnya.

Namun, bagi pemerhati kebijakan publik, kegiatan seremonial seperti ini sering kali berhenti di panggung deklarasi. Sebab, tanpa perubahan nyata pada sistem pendidikan dan perlindungan sosial, deklarasi anti-bullying hanya akan menjadi slogan tahunan yang kehilangan makna.

Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menunjukkan, dari 416 kabupaten/kota di Indonesia yang dievaluasi pada 2024, hanya 16 daerah yang berhasil mencapai predikat Kota Layak Anak tingkat Utama. Bandung tidak termasuk di dalamnya.

Farhan mengakui bahwa kasus bullying digital kini menjadi ancaman utama di tengah meningkatnya akses teknologi warga Bandung.

“Tingkat literasi digital kita masih di bawah 70 persen, sementara akses internet sudah di atas 82 persen dan kepemilikan telepon genggam lebih dari 100 persen, artinya rata-rata satu orang punya lebih dari satu handphone,” ungkapnya.

0 Komentar