Langkah ini, kata Erwin, tidak mudah dilakukan karena menyangkut aspek sosial dan kepemilikan lahan. Namun, ia menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas utama.
“Kami tidak ingin masalah banjir terus berulang karena adanya bangunan liar yang menghambat aliran air. Kami lakukan pendekatan persuasif agar masyarakat mau bekerja sama,” ujarnya.
Di sisi lain, Erwin juga mengimbau para lurah, camat, dan ketua RW untuk memperkuat koordinasi dan kewaspadaan di wilayah masing-masing.
Baca Juga:Oihan Sancet Diproyeksikan Jadi Motor Baru Manchester UnitedJurgen Klopp Buka Peluang Kembali ke Liverpool?
Ia meminta agar pemeriksaan rutin terhadap kondisi sungai, saluran air, dan daerah rawan longsor terus dilakukan.
“Saya mengimbau kepada para lurah, RW, dan camat untuk kolaborasi. Periksa sungai-sungai yang ada di Kota Bandung. Kalau ada erosi, pengikisan, atau batu yang mulai turun, segera laporkan supaya tidak menimbulkan longsor,” tegasnya.
Erwin juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan pengendalian banjir tidak bisa hanya mengandalkan proyek fisik pemerintah, tetapi juga kedisiplinan warga dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Dengan berbagai langkah tersebut, Pemkot Bandung menargetkan agar risiko banjir dapat ditekan secara bertahap. Pembangunan infrastruktur pengendali air dan peningkatan kesadaran masyarakat diharapkan bisa menjadi kombinasi efektif untuk menjaga Kota Bandung tetap aman selama musim penghujan. (Dam)
