Para Siswa Tabrak Aturan, Kebijakan Dedi Mulyadi Dulu Terlihat Gagah tapi Kini Lemah Pengawasan 

Para Siswa Tabrak Aturan, Kebijakan Dedi Mulyadi Dulu Terlihat Gagah tapi Kini Lemah Pengawasan 
Semula di atas trotoar, siswa kini memarkir kendaraan roda dua di pinggir jalan di Jl Perjuangan, Kota Cirebon. Gambar diambil pada Senin (20/10/2025). (SENO DWI PRIYANTO/RADAR CIREBON)
0 Komentar

Siarudin menyebut, awalnya semua pihak kompak menjalankan instruksi gubernur. Tapi tanpa sistem pengawasan tetap, kebijakan kehilangan tenaga. Kini, Kawasan Stasion Bima kembali jadi tujuan remaja. Nongkrong di warung, duduk di trotoar, hingga larut malam. Tak ada lagi yang menegur. Tidak ada lagi yang mencatat.

Di SMAN 8 Cirebon, kegiatan pagi tetap tertib. Siswa datang pukul 06.30, mengaji sebelum belajar. Tapi setelah pulang, siapa yang mengawasi mereka di malam hari? Kebijakan jam malam tinggal slogan. Ramai di awal, sepi di tengah jalan. Gebrakan tanpa konsistensi.

Larangan pelajar membawa motor tanpa SIM menjadi kebijakan ketiga yang juga mandek. Di atas kertas, aturan ini tegas. Tapi di lapangan, pelaksanaannya penuh celah. Di Kota Cirebon, pelajar tetap datang dengan motor. Bedanya, mereka memarkir di tempat alternatif -bukan di sekolah.

Baca Juga:Drama Data Deposito, Dedi Mulyadi Bakal Berhentikan Staf jika BohongDedi Mulyadi Tantang Menkeu Buka Data Soal Pengendapan Uang Pemda: Agar Tidak Giring Opini

Ada yang parkir kendaraan di trotoar, pelataran toko, di tepi jalan, bahkan menggunakan halaman masjid. Warga sekitar melihat peluang. Lahan kosong disulap jadi parkir berbayar. Dua ribu rupiah per hari. Aman, tapi ilegal.

Kondisi di Kabupaten Cianjur

Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Cianjur, Helmi Halimudin, pihaknya sudah mengikuti dan melaksanakan yang sudah diatur oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Dirinya mencontohkan kebijakan penerapan jam malam, dimana Disdikpora sudah berkolaborasi dengan Satpol PP dan Polres setiap Jumat dan Sabtu malam selalu ada operasi di tempat-tempat ramai.

“Terus di kecamatan juga ada, sama seperti di tingkat kabupaten, kepala sekolah (kolaborasi) dengan kecamatan, Satpol PP dan Polsek,” katanya kepada Cianjur Ekspres, kemarin (21/10).

Pun demikian dengan program penguatan karakter melalui pendidikan siswa ke barak militer sudah dilaksanakan. Helmi mengungkapkan, kegiatan tersebut dilaksanakan di tahun pertama ini satu kali karena juga menyangkut anggaran.

“Yang jelas banyak hal positif setelah melaksanakan pembinaan di barak. Contoh misalkan pendidikan di barak bukan masalah disiplin saja, di awal masuk kita petakan dulu siswa itu kekurangannya apa. Misalkan yang belum bisa mengaji, setiap malam habis Salat Maghrib dan Subuh ada pendidikan keagamaan dari Kemenag,” paparnya.

0 Komentar