JABAR EKSPRES – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor menambah durasi waktu lampu hijau di sejumlah simpang utama untuk memperlancar arus lalu lintas, terutama pada akhir pekan. Langkah ini dilakukan menyusul meningkatnya volume kendaraan di sejumlah kawasan pusat kota.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor, Sujatmiko Baliarto, mengatakan, salah satu titik yang mengalami penyesuaian adalah Simpang Botani Square, Bogor Tengah dengan durasi lampu hijau diperpanjang dari 50 detik menjadi 95 detik.
“Kami menambah waktu hijau di Simpang Botani karena tingkat kedatangan kendaraan dari arah Jalan Jalak Harupat dan sekitar Rumah Sakit Siloam semakin tinggi. Dengan penambahan ini, arus kendaraan yang hendak keluar kota tidak perlu menumpuk di sekitar Kebun Raya,” ujar Sujatmiko saat dihubungi, Rabu (22/10/2025).
Baca Juga:Peringati Hari Santri Nasional 2025, Pemkab Bogor Prioritaskan Infrastruktur dan Legalitas PonpesResmikan Flyover Soebianto dan JPO Tenjo, Ini Harapan Bupati Bogor
Ia menjelaskan, penyesuaian ini di kawasan Botani Square juga memudahkan kendaraan dari arah Harupat yang hendak menuju Tol Jagorawi melalui Jalan Pajajaran.
“Sekarang kendaraan bisa langsung meluncur dari Jalan Jalak Harupat, melewati Botani, dan langsung masuk tol tanpa harus berhenti lama di lampu merah,” ujarnya.
Selain di kawasan Botani, penambahan waktu lampu hijau juga telah dilakukan di Simpang Jambu Dua dan kawasan Semplak. Di dua titik tersebut, Dishub mencatat antrean kendaraan yang sebelumnya cukup panjang kini mulai berkurang, terutama dari arah Jalan Pandu Raya dan Patung Tugu Narkoba menuju Jambu Dua.
“Sekarang antreannya sudah jauh berkurang. Kami menyesuaikan waktu hijau berdasarkan volume lalu lintas di setiap simpang,” katanya.
Namun, ia mengakui bahwa di beberapa simpang besar, sistem pengaturan lampu lalu lintas sudah mencapai titik jenuh, yakni kondisi ketika durasi lampu telah disesuaikan maksimal tetapi kemacetan masih terjadi.
Saat ini, total durasi satu siklus lampu di sejumlah kawasan bahkan mencapai lebih dari 220 detik, padahal rekomendasinya hanya sekitar 120 detik. Jika waktunya dikurangi, antrean kendaraan justru akan semakin panjang sehingga sulit dilakukan perubahan lebih lanjut.
“Artinya, pengaturan lampu lalu lintas di sejumlah kawasan tidak lagi cukup untuk mengurai kepadatan. Ke depan memang satu-satunya solusi memang harus dibangun underpass atau simpang tidak sebidang di beberapa kawasan,” ujarnya.
