Sampah Kian Menumpuk, Bandung Tambah Titik Pengolahan Termal Baru

Sampah Kian Menumpuk, Bandung Tambah Titik Pengolahan Termal Baru
Pelajar melihat tumpukan sampah meluber hingga ke jalan di TPS Budhi Jalan Amir Mahmud, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung terus mengoptimalkan berbagai metode pengolahan sampah untuk mengatasi keterbatasan pembuangan ke TPA Sarimukti.

Kepala DLH Bandung, Darto, mengatakan saat ini sudah ada 13 titik pengolahan yang beroperasi. “Di kota, kita sudah memiliki 11 titik. Hari ini tambah dua, jadi sudah 13 titik yang beroperasi,” kata Darto saat dihubungi Jabar Ekspres, baru-baru ini.

Menurut dia, seluruh metode pengolahan terus dimaksimalkan. “Upayanya kita adalah mengoptimalkan semua metode pengolahan yang ada, dari mulai magotisasi, komposting, loseda, dan Kang Pisman. Semua metode termasuk pengolahan berbasis termal atau insinerator,” ujarnya.

Baca Juga:Tak Gentar Hadapi PSBS Biak, Adam Alis Ungkap Mental Skuad Persib Sedang Naik!Wes Brown Ungkap Kemungkinan Besar Ronaldo Jadi Arsitek Kebangkitan MU

Pemerintah (Pemkot) Kota Bandung, lanjut Darto, merekrut 597 petugas pengelola atau caslah yang ditempatkan di tingkat RW untuk memastikan pengelolaan sampah berjalan efektif.

“Harus ada petugas yang in-charge, yang memastikan semuanya bisa dilakukan dengan baik,” lanjutnya

Selain itu, DLH juga mengkaji penggunaan berbagai teknologi termal. “Di teknologi termal itu kan ada insinerator, pirolisis, gasifikasi, plasma dingin, dan juga nanoplasma,” ujar Darto.

Darto memastikan seluruh insinerator yang beroperasi di Bandung telah memenuhi standar lingkungan. Ketentuan Permen LH Nomor 70 Tahun 2016 itu sangat jelas.

Ambang baku emisinya, kata dia, diatur dengan sangat ketat, dan pihaknya bakal memantau itu setiap saat.

Menurut Darto, sekitar 60 persen sampah Kota Bandung berasal dari rumah tangga dan 10 persen dari pasar. Karena itu, dia mendorong pengolahan dilakukan langsung di sumber.

“Kami tidak punya lahan besar untuk tempat pengolahan yang besar. Jadi yang paling mungkin itu yang kecil-kecil saja,” pungkasnya.

0 Komentar