Untuk melengkapi pengalaman kuliner para pelanggan, Almaz Fried Chicken kini menghadirkan beberapa menu baru.
“Kami sedang mengembangkan menu tambahan seperti krim sup, lalu ada juga chicken cheese yang sudah mulai kami pasarkan. Selain itu, kami juga sedang menyiapkan produk ekonomis agar bisa menjangkau semua kalangan,” ungkap Ustadz Wawan.
Meski terus berinovasi dengan menu baru, Almaz tetap mempertahankan ciri khas utama mereka, yaitu ayam goreng dengan bumbu rempah Nusantara.
Baca Juga:20 Kode Redeem FC Mobile Hari Ini 10.000 Gems dan Pemain Langka Siap DiklaimCara Pre-Order iPhone 17 di Indonesia, Segini Harga di Tanah Air
“Cita rasa ayam kami memang berbeda. Bumbunya meresap sampai ke dalam dan warnanya oranye itu khas Almaz. Rempahnya kami sesuaikan dengan rempah Nusantara, sehingga cocok di lidah masyarakat Indonesia,” jelasnya.
Sejak pertama kali dibuka, Almaz Fried Chicken mendapat sambutan positif dari masyarakat Kabupaten Bandung. Menurut ustadz Wawan, banyak pelanggan yang menjadikan Almaz sebagai pilihan baru di tengah meningkatnya tren boikot terhadap sejumlah brand luar negeri.
“Alhamdulillah, responnya sangat baik. Banyak masyarakat yang datang karena ingin mencoba rasa ayam yang baru, sekaligus menjadikan Almaz sebagai alternatif dari brand-brand fried chicken lain yang sedang diboikot,” katanya.
Namun, lebih dari sekadar momentum, ustadz Wawan menegaskan bahwa Almaz juga ingin menghadirkan pengalaman kuliner yang membawa nostalgia bagi jemaah haji dan umrah asal Indonesia.
“Kami ingin menghadirkan rasa ayam goreng khas Saudi yang biasa dinikmati jemaah di Tanah Suci. Jadi, mereka yang kangen ayam albaik tidak perlu jauh-jauh ke Saudi, karena sekarang sudah bisa menikmati cita rasanya di sini,” tutur ustadz Wawan.
Dengan konsep yang memadukan cita rasa Timur Tengah dan rempah Nusantara, Almaz Fried Chicken optimistis dapat terus berkembang dan diterima oleh masyarakat luas.
“Insya Allah kami akan terus memperluas jaringan outlet di berbagai wilayah, sambil tetap menjaga cita rasa dan kualitas yang menjadi ciri khas kami,” pungkas ustadz Wawan. (*)
