JABAR EKSPRES — Di tengah percepatan pemasangan teknologi pengolahan sampah berbasis thermal oleh Pemerintah Kota Bandung, akademisi memperingatkan potensi dampak negatif dari penggunaan teknologi tersebut, baik terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, maupun arah kebijakan pengelolaan sampah jangka panjang.
Teknologi thermal seperti motah dan gasifikasi, yang digunakan untuk mengolah sampah dengan proses pembakaran bersuhu tinggi, dinilai memang mampu mengurangi volume sampah secara cepat. Namun, menurut kalangan akademisi, teknologi ini bukan tanpa risiko serius.
“Secara teknis, memang volume sampah bisa ditekan. Tapi risiko emisi gas berbahaya, residu abu, dan potensi pencemaran udara sangat nyata jika sistem kontrol emisinya tidak maksimal,” kata Suriyadi, Akademisi Teknik Kimia UPI, Kamis (2/10).
Baca Juga:Teknologi Pengolahan Sampah Terus Dikebut, DLH Bandung Fokus Capai 300 Ton per HariInsenerator Teknologi Thermal Pengolahan Sampah Mulai Dibangun di Gedebage
Menurutnya, teknologi thermal memerlukan sistem pengelolaan emisi yang sangat ketat dan konsisten. Jika tidak, proses pembakaran justru berpotensi menghasilkan dioksin dan furan, dua senyawa beracun yang dapat berdampak pada kesehatan masyarakat sekitar, terutama jika terhirup dalam jangka panjang.
“Masalahnya bukan di teknologinya saja, tapi apakah operator punya kapasitas menjaga suhu stabil, mengontrol emisi, dan mengelola residu berbahaya yang dihasilkan. Kalau tidak, ini bisa jadi bom waktu lingkungan,” ujarnya.
Dirinya juga menyoroti bahwa penggunaan teknologi thermal secara masif bisa mengaburkan prioritas kebijakan dalam pengelolaan sampah. Ia menilai Pemkot Bandung terlalu fokus pada solusi hilir (pemusnahan sampah), alih-alih membenahi masalah utama di hulu, yakni pengurangan dan pemilahan sampah dari sumbernya.
“Teknologi thermal berisiko menciptakan ilusi seolah semua sampah bisa dibakar dan selesai. Ini bertentangan dengan prinsip 3R: reduce, reuse, recycle,” tegasnya.
Selain itu, teknologi thermal memiliki jejak karbon tinggi, dan tidak ramah lingkungan jika tidak diimbangi dengan sumber energi terbarukan atau sistem penyerapan karbon yang memadai.
“Bandung ini sudah rentan polusi. Kalau penanganan thermal tidak dikendalikan, emisi karbon bisa meningkat dan memperburuk kualitas udara,” jelasnya.
Ia juga menyebut bahwa teknologi ini cenderung mahal secara operasional dan rentan macet jika jenis sampah yang masuk tidak sesuai spesifikasi mesin.
