JABAR EKSPRES – Pakar Kebijakan Publik Unpad, Yogi Suprayogi turut menyampaikan sejumlah masukan di momen Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-215. Ada sejumlah permasalahan klasik yang patut dituntaskan, dari banjir hingga persoalan korupsi.
Kota Bandung kini berusaia 215 tahun, tapi masih memiliki segudang permasalahan. Kota ini butuh inovasi hingga keberanian Kepala Daerah agar berbagai masalah publik yang menghantui bisa tuntas.
Yogi menguraikan, masalah pertama adalah soal kemacetan. Ini jelas banyak dikeluhkan masyarakat. Simpul-simpul kemacetan masih menghantui di beberapa titik di Kota Bandung. Mulai dari Soekarno-Hatta, Pasteur, hingga di pusat kota.
Baca Juga:Kuota 8 Persen Suporter Timnas Indonesia di Arab Saudi Tak IdealTerungkap! Alasan Mees Hilgers dan Marselino Tak Dipanggil Timnas Indonesia, Ternyata…
“Masalah ini memang tidak bisa dituntaskan oleh Kota Bandung saja, tapi perlu kolaborasi antar daerah. Karena ini soal integrasi, ekonomi, hingga populasi penduduk,” cetusnya.
Masalah berikutnya adalah sampah. Beberapa kali Kota Bandung berstatus darurat sampah. Ini jadi masalah klasik tapi tak kunjung tuntas.
Kemudian adalah persoalan banjir. Kota Bandung ketika musim hujan pasti dihantui banjir. Utamanya daerah-daerah yang sudah langganan seperti Gedebage.
Dari aspek ekonomi, Kota Bandung ini dikenal kota kreatif. Artinya karakter kota yang tidak banyak pabrik atau daerah yang menjadi lumbung pertanian. Mau tidak mau, Kota Bandung mengandalkan sektor jasa sebagai sumber pendapatan.
“Ini tantangan juga. Penghasilan dari sektor jasa dan dunia kreatifnyalah yang jadi tumpuan pendapatan,” cetusnya.
Yogi melanjutkan, yang tak kalah penting adalah masalah korupsi. “Ini mau sampai kapan, sudah beberapa kepala daerah dan bawahannya tersandra korupsi,” terangnya.
Menurut Yogi, berbagai persoalan itu bukan mustahil untuk diselesaikan. “Keseriusan pemerintah daerah diuji. Lalu inovasi teknologi hingga rekayasa sosial,” cetusnya.
Baca Juga:Persib Siap Tempur Lawan Persita, Hodak Optimistis Tren Positif BerlanjutRealisasi FLPP di Jawa Tengah Mencapai 15.414 unit Rumah, Program 3 Juta Rumah Terus Digenjot
Yogi menjabarkan, masalah sampah misalnya, itu tidak cukup dengan inovasi teknologi. Tapi juga perlu membangun kesadaran masyarakat. “Konsepnya rekayasa sosial. Bagaimana masyarakat bisa mau ikut terlibat menuntaskan sampahnya,” katanya.
Ia mencontohkan, di Jepang memang ada segudang inovasi teknologi untuk menuntaskan sampah. Tapi yang baik adalah kepedulian atau budaya masyarakatnya dalam hal sampah.
