Meski Kota Bandung kini sudah berusia 215 tahun, permasalahan dalam penanganan sampah sampai kini belum kunjung terselesaikan.
Setiap pergantian wali kota, sampah tetap jadi jargon janji kampanye. Namun, tidak pernah ada solusi untuk jadikan Kota Bandung lebih baik.
Dalam peringatan HJKB tahun ini, sejumlah kritik dari warga menyampaikan unek-uneknya. Salah seorang Ibu Rumah Tangga, Osa (39) mengaku, sampah sering menumpuk di wilayahnya.
Baca Juga:Kuota 8 Persen Suporter Timnas Indonesia di Arab Saudi Tak IdealTerungkap! Alasan Mees Hilgers dan Marselino Tak Dipanggil Timnas Indonesia, Ternyata…
Penumpukan sampah ini terjadi karena petugas kebersihan sering terlambat melakukan pengangkutan. Padahal sampah sudah didaur ulang dari rumah.
“Sampah ditumpukin dulu sama si tukangnya (petugas kebersihan) dengan alasan bahwa tempat pembuangannya (TPS) penuh,” ujarnya.
Selain pada sampah, Osa juga menyoroti soal trasnportasi yang kian hari kian terjadi kepadatan. Sebagai ibu rumah tangga yang memiliki dua orang anak. Osa mengaku kepadatan yang kerap terjadi, kini telah membuat aktivitas sehari-harinya terganggu.
“Kalau macet sangat memberi dampak kalau menurut saya pribadi. Karena jadinya kalau mau antar dan jemput anak sekolah itu jadi suka terlambat,” ungkapanya.
Osa berharap Pemkot Bandung dapat segera mencarikan solusi khususnya dalam menuntaskan beberapa persoalan tersebut. Jangan sampai pemerintah hanya janji-janji semata.
Masih Ada Siswa Putus Sekolah
Kota Bandung mencatat angka putus sekolah yang relatif rendah pada tahun ajaran 2024/2025, namun tetap menjadi sorotan karena posisinya sebagai barometer pendidikan Jawa Barat (Jabar).
Data Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat mencatat, 109 siswa SD di Kota Bandung putus sekolah, terdiri dari 84 siswa negeri dan 25 siswa swasta.
Baca Juga:Persib Siap Tempur Lawan Persita, Hodak Optimistis Tren Positif BerlanjutRealisasi FLPP di Jawa Tengah Mencapai 15.414 unit Rumah, Program 3 Juta Rumah Terus Digenjot
Berdasarkan data jumlah putus sekolah tahun ajaran 2024/2025 itu, dalam jenjang SMP, jumlahnya jauh lebih kecil. Hanya 20 siswa yang tercatat putus sekolah, 18 di antaranya dari sekolah negeri.
Meski angkanya kecil, temuan ini dipandang penting karena menunjukkan masih ada kelompok siswa di Kota Bandung yang belum berhasil dipertahankan dalam jalur pendidikan formal.
Jika dibandingkan dengan daerah lain di Jawa Barat, Kota Bandung berada di kelompok bawah dalam jumlah putus sekolah. Kabupaten Bekasi memimpin dengan angka tertinggi di tingkat SD, mencapai 545 siswa, disusul Kabupaten Bogor 533 siswa dan Kabupaten Sukabumi 482 siswa.
