“Belum pernah ada sosialisasi. Belum tahu juga karena pelatihannya harus difasilitasi Dinas Pendidikan supaya acuannya sama. Kalau menurut saya, lebih baik masuk ekskul saja, cukup oleh satu guru,” ucap Dewi.
Dewi menilai, jika dijadikan kurikulum, beban guru kelas akan semakin berat. Pasalnya, di SD guru kelas berperan mengajar hampir semua mata pelajaran kecuali PJOK dan PAI.
“Kalau sebagai ekskul lebih realistis. Di sekolah saya, sudah direncanakan mulai semester dua akan ada ekskul minat bakat. Salah satunya aksara Sunda, tujuannya juga untuk mempersiapkan siswa menghadapi Festival Tunas Bahasa Ibu sekaligus melestarikan budaya Sunda, khususnya aksara Sunda,” jelasnya.
Baca Juga:Tiang Internet Tanpa Izin Berjejer Jalan Purnomosidi, Pemkot Banjar Akan TindakWagub Jateng Targetkan 50 Persen Penyandang Difabel Bisa Menikmati Program Kecamatan Berdaya pada 2026
Dengan demikian, wacana pembelajaran aksara Sunda di Cimahi masih menunggu keputusan final.
Pemerintah daerah bersama sekolah kini fokus pada skema awal yang paling memungkinkan agar implementasinya tidak terburu-buru namun tetap efektif. (Mong)
