Memberdayakan Ekonomi Lokal, Tapi Tantangan Tetap Besar
SPPG Citeureup mempekerjakan 51 orang tenaga kerja, terdiri dari 48 pegawai dapur, 1 ahli gizi, 1 staf akuntansi, dan 1 kepala unit.
Mayoritas pekerja berasal dari masyarakat sekitar dapur. Menurut Ilham, hal ini sejalan dengan misi program MBG, yakni tidak hanya meningkatkan gizi anak sekolah tetapi juga memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar.
“Tujuan kami bukan sekadar menyediakan makan bergizi, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan. Mayoritas pegawai berasal dari lingkungan sekitar dapur, sehingga perputaran ekonomi lokal juga terbantu,” katanya.
Baca Juga:Korban Keracunan MBG di Cipongkor Tembus 301 Orang! Pemkab Pertimbangkan Status KLBAlih-alih Sehat Malah Bikin Cemas! Siswa di Cimahi Ngeluh Soal Kualitas MBG, Orang Tua Takut Keracunan
Namun, di balik semangat itu, pengawasan ketat tetap menjadi tantangan utama. Ilham mengakui, belakangan ini perhatian pemerintah pusat hingga pengawas wilayah semakin besar, terutama setelah kasus keracunan viral di media sosial.
“Beda ya antara makanan beracun dengan makanan basi. Kalau beracun, ada kandungan zat berbahaya. Kalau basi, bisa jadi karena kesalahan pengolahan atau penyimpanan. Antisipasi kami, dari bahan baku sampai distribusi, harus lebih ketat lagi agar tidak terjadi kontaminasi silang,” jelasnya.
Ilham juga menyebut, pihaknya mulai menggunakan CCTV di dapur untuk memastikan tidak ada celah kontaminasi atau kelalaian pekerja. Ia juga berencana mendorong pekerja dapur menjalani medical check-up lengkap, bukan hanya surat keterangan sehat dari Puskesmas seperti saat ini.
Catatan Sekolah: Ulat di Nasi, Brokoli Berhama, hingga Buah Busuk
Kekhawatiran tidak hanya datang dari penyedia pangan. Dari pihak sekolah, langkah antisipasi pun dilakukan. Wakil Kepala Hubungan Industri dan Masyarakat SMKN 3 Cimahi, Latifah Puji Astuti, mengungkapkan sekolah secara rutin melakukan inspeksi langsung ke dapur SPPG Citeureup.
“Lokasinya dekat, hanya sekitar satu kilometer dari sekolah. Itu jadi alasan kami memilih penyedia ini, supaya distribusi lebih cepat dan risiko kontaminasi lebih kecil,” ujar Latifah.
Sejak hari pertama program berjalan, pihak sekolah sudah melakukan kunjungan sebanyak empat kali. Mereka tidak hanya melihat proses memasak, tetapi juga menanyakan asal-usul pekerja, kondisi kesehatan mereka, hingga standar higienitas dapur.
“Menurut saya, pekerja dapur seharusnya menjalani pemeriksaan kesehatan yang lebih detail, seperti tes paru-paru, hepatitis, bahkan tes rektal. Itu standar yang biasa berlaku di industri perhotelan. Karena SPPG ini menyuplai ribuan porsi ke lima sekolah sekaligus, bayangkan jika terjadi keracunan massal,” katanya dengan nada tegas.
