Alih-alih Sehat Malah Bikin Cemas! Siswa di Cimahi Ngeluh Soal Kualitas MBG, Orang Tua Takut Keracunan

Ilustrasi: Pelajar SMA menyantap Makan Bergizi Gratis. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
Ilustrasi: Pelajar SMA menyantap Makan Bergizi Gratis. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa sekolah di Kota Cimahi kembali menjadi sorotan. Sejumlah siswa SMA mengeluhkan kualitas rasa dan kesegaran makanan yang dinilai menurun, bahkan sempat menimbulkan keluhan kesehatan.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran para orang tua terkait higienitas bahan dan proses pengolahan makanan tersebut.

Keluhan pertama datang dari MR (17), siswa SMAN 3 Cimahi. Ia menilai rasa sayuran yang disajikan dalam menu MBG beberapa waktu terakhir terasa asam sehingga banyak siswa enggan menghabiskannya.

Baca Juga:Nikmati Pemandangan Gunung Tangkuban Perahu Lewat “Mountain Gateway Package” dari ibis Bandung PasteurLewat “A Legacy of Love”, Sun Life Indonesia Gelar Bright Talk Spesial 

“Kalau makanannya agak asem, kaya sayurnya. Makanya teman-teman banyak yang tidak dihabiskan,” ungkap MR saat ditemui usai sekolah, Selasa (23/9/2025).

MR juga menambahkan, beberapa menu kerap diganti dengan kentang sebagai pengganti nasi. Namun, kentang tersebut menurutnya tidak segar dan terasa seperti baru keluar dari freezer.

“Pernah nasi diganti pakai kentang, cuman agak dingin kaya abis dari kulkas,” keluhnya.

Senada, PNF (17), siswa lain di Cimahi, mengaku sempat mengalami sakit perut setelah mengonsumsi menu MBG. Ia menduga makanan yang disajikan kurang segar sejak dikirim ke sekolah.

“Emang waktu makan itu agak bau asem gitu (sayur). Gak lama abis makan, tiba-tiba sakit perut. Kayanya memang makanannya agak kurang fresh,” jelas PNF.

Keluhan siswa ini turut menjadi perhatian orang tua. LP (49), orang tua siswa yang beralamatkan rumahnya di Kelurahan Cibabat Kecamatan Cimahi Utara, mengaku khawatir terhadap higienitas bahan makanan dan proses memasak di dapur penyedia MBG atau satuan pelayanan penyelenggara gizi (SPPG).

“Sebagai orang tua memang khawatir, karena tidak tahu bahan yang dipakai higienis atau tidak. Alat yang dipakai higienis atau tidak, lalu proses masaknya juga. Kita tidak tahu SOP di dapur lain apakah jelas atau tidak,” ucapnya.

Baca Juga:PGN Ajak Jurnalis Naik Taksi BBG dalam Roadshow AJP 2025 Teritori JatimbalinusKapolresta Bandung Resmi Jadi Dewan Penasehat dan Bapak Angkat Komunitas Ojol Samawana Jabar

Ia menjelaskan, meski setiap SPPG memiliki ahli gizi, proses masak skala besar sering kali menimbulkan masalah kualitas.

LP sempat berkunjung ke salah satu dapur SPPG, ia mendapati sayur pakcoy sudah terasa asam karena dimasak sejak pukul 03.00 dini hari untuk memenuhi kebutuhan 4.000 hingga 5.000 porsi makanan.

0 Komentar