Warga Sumedang Hilang Selama 5 Hari, Saksi: Terlihat Masuk Hutan tapi Tak Kunjung Pulang

Tim SAR ketika melakukan proses pencarian terhadap seorang warga bernama Tata (79) yang dikabarkan hilang di a
Tim SAR ketika melakukan proses pencarian terhadap seorang warga bernama Tata (79) yang dikabarkan hilang di area Puncak Manik Lereng Gunung Tampomas, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang. (Kantor SAR Bandung for Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Seorang warga Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang, bernama Tata (79), dilaporkan hilang di kawasan Puncak Manik sejak Rabu, 17 September 2025.

Diketahui, Puncak Manik di Buahdua merupakan dusun terpencil yang terletak di lereng Gunung Tampomas. Lokasi ini berada di wilayah Desa Cilangkap dan dikenal sebagai kawasan hutan dengan jalur yang sulit diakses serta berbahaya, terutama saat musim hujan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Tim SAR Gabungan saat ini masih mengupayakan pencarian. Tata terakhir terlihat pergi melalui jalan Conggeang–Buahdua sekitar pukul 06.28 WIB, tanpa diketahui tujuannya.

Baca Juga:Lewat “A Legacy of Love”, Sun Life Indonesia Gelar Bright Talk Spesial PGN Ajak Jurnalis Naik Taksi BBG dalam Roadshow AJP 2025 Teritori Jatimbalinus

Menurut keterangan seorang saksi, Tata terlihat berjalan ke arah hutan. Namun hingga sore hari, ia tak kunjung kembali ke rumah.

Upaya pencarian sempat dilakukan secara mandiri oleh warga pada hari yang sama, namun belum membuahkan hasil.

Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor SAR Bandung, Mochamad Adip, mengatakan bahwa pada Sabtu (20/9/2025), ditemukan sandal milik Tata di sekitar area pencarian.

Aparat setempat kemudian melaporkan temuan tersebut ke BPBD Sumedang dan meneruskannya ke Polsek Buahdua serta Basarnas Kantor SAR Bandung untuk dilakukan pencarian lanjutan.

“Hari ini tim terus mengupayakan pencarian dengan melakukan detection mode, pencarian tipe 1 dan tipe 2 pada probable dan possible area,” katanya, Minggu (21/9).

Adip menjelaskan, pencarian tipe 1 merupakan strategi pencarian terburu-buru dan terarah, yang dilakukan pada tahap awal operasi SAR untuk area yang paling memungkinkan survivor—dalam hal ini Tata—berada.

“Tujuannya adalah menemukan survivor secepat mungkin berdasarkan informasi terakhir dan data lokasi kejadian,” jelasnya.

Baca Juga:Kapolresta Bandung Resmi Jadi Dewan Penasehat dan Bapak Angkat Komunitas Ojol Samawana JabarDebut Sensasional! Fakhri Rookie SMAN 1 Baleendah, Borong 22 Poin di DBL Bandung 2025

Sementara itu, pencarian tipe 2 merupakan teknik pencarian cepat dan sistematis, yang dilakukan di area pencarian luas dengan tujuan menyapu atau memeriksa wilayah tersebut secara efisien.

“Hingga pukul 14.00 WIB, hasil pencarian masih nihil dan masih terus diupayakan pencarian,” pungkasnya.

0 Komentar