JABAR EKSPRES – Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan serius di Indonesia.
Menurut World Health Organization (WHO, 2023), stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan stimulasi yang tidak memadai, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badan berada di bawah standar usia.
Kondisi ini dapat berdampak jangka panjang pada perkembangan kognitif, produktivitas, bahkan meningkatkan risiko penyakit degeneratif di usia dewasa.
Data Kementerian Kesehatan RI (2023) mencatat prevalensi stunting di Indonesia masih 21,6%.
Baca Juga:UBK Gelar Pengmas di Desa Citaman: Edukasi Hipertensi dan Pemeriksaan KesehatanMasyarakat SIAP Sehat: Dosen UBK Edukasi Tanggap Darurat dan Perawatan Luka Ringan di Ibun Bandung
Angka ini meskipun sudah menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya, namun masih jauh dari target global WHO yaitu 14% pada 2025.
Di Jawa Barat sendiri, prevalensi stunting mencapai 20,2%, lebih tinggi dari rata-rata nasional.
Melihat kondisi tersebut, berbagai pihak berupaya memberikan kontribusi, termasuk kalangan akademisi.
Salah satunya dilakukan oleh tim dosen Universitas Bhakti Kencana (UBK) yang menggelar program pengabdian masyarakat bertajuk, “Pemberdayaan Masyarakat dalam Peningkatan Pengetahuan Gizi Balita Berbasis Keluarga”, di RW 04 Desa Mekarrahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung.
Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Bhakti Kencana kelompok 11 ini terdiri dari , Ria Indriani, S. Kep., Ners., M. Kep. sebagai ketua dan Sri Lestari K., SST., M.Keb, H. Tata Juarta, S.Pd., S.KM., MH.Kes, Ina Sugiharti., SST., M.Kes, Amida Sriwianti Sarbini, S.ST., M.Keb. sebagai anggota.
Kegiatan ini juga melibatkan 4 mahasiswa, yang terdiri dari Fahmi Fabian dari Program Sarjana Terapan KeperawatanAnestesiologi, Vira Zahrotun dari Prodi Sarjana Keperawatan, Aviana Abdul dari Program Sarjana Kesehatan Masyarakat, dan Nurhaidah Latifa dari Program Sarjana Kebidanan.
Menggali Permasalahan Gizi di RW 04 Mekarrahayu
RW 04 merupakan salah satu wilayah padatpenduduk dengan mayoritas warganya berprofesi sebagai pelaku usaha kecil dan menengah.
Baca Juga:PPPK Paruh Waktu 2025: Cara Cek Nama Honorer yang Diusulkan Lengkap dengan StatusnyaPakai NIK KTP Begini Cara Cek Penerima Bansos PKH dan BPNT 2025
Partisipasi warga dalam kegiatan posyandu tergolong tinggi, namun hasil wawancara tim UBK menunjukkan masih banyak keterbatasan dalam pemahaman gizi balita.
Data yang didapat dari kader PKK setempat, dari 60 balita yang tinggal di RW 04, terdapat 4 anak yang terindikasi stunting.
“Masyarakat sering menganggap bahwa postur tubuh pendekanak adalah faktor keturunan. Padahal bisa jadi itu tandastunting akibat kekurangan gizi kronis,” ungkap ketua tim pengmas, Ria Indriani.
