Dosen Universitas Bhakti Kencana Ajak Warga Mekarrayahu Lawan Stunting Lewat Edukasi Gizi

Dosen Universitas Bhakti Kencana Ajak Warga Mekarrayahu Lawan Stunting Lewat Edukasi Gizi
Dosen Universitas Bhakti Kencana Ajak Warga Mekarrayahu Lawan Stunting Lewat Edukasi Gizi. (foto: Ina S.)
0 Komentar

Keterbatasan informasi gizi, penyuluhan posyandu yang masih bersifat satu arah, serta keterampilan kader yang belummaksimal menjadi penyebab utama.

Hal ini sejalan dengantemuan penelitian Sari & Nurhasanah (2023) yang menunjukkan bahwa kelas edukasi ibu balita secara signifikanmeningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalammerawat anak.

UBK Hadir dengan Pendekatan Berbasis Keluarga

Program pengabdian masyarakat yang digagas UBK hadir dengan solusi berbeda.

Baca Juga:UBK Gelar Pengmas di Desa Citaman: Edukasi Hipertensi dan Pemeriksaan KesehatanMasyarakat SIAP Sehat: Dosen UBK Edukasi Tanggap Darurat dan Perawatan Luka Ringan di Ibun Bandung

Alih-alih hanya memberikan ceramah singkat, UBK menerapkan edukasi berbasis keluarga dengan metode partisipatif dan media visual.

Metode yang digunakan meliputi:

  1. Pemaparan materi edukasi mengenai gizi seimbang, pemberian MP-ASI sesuai usia, serta pentingnya protein hewani dan variasi makanan.
  2. Penayangan video edukatif yang memvisualisasikan praktik sederhana pemberian makan bergizi bagi balita. Penelitian Rosyada et al. (2022) membuktikan bahwa media visual mampu meningkatkan pemahaman orang tua secara signifikan.
  3. Diskusi tanya jawab interaktif antara tim dosen, kader, dan ibu balita untuk menjawab permasalahan sehari-hariyang dihadapi keluarga terkait gizi.

Pelaksanaan Program: Warga Antusias Belajar Gizi

Kegiatan berlangsung pada 25 Agustus 2025 di RumahKetua RW 04.

Sejak pagi, para ibu balita, kader posyandu, hingga tokoh masyarakat sudah hadir dengan penuh semangat.

Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua PKK yang menekankan pentingnya edukasi gizi untuk generasi masa depan.

Dalam sesi inti, tim dosen menyampaikan materi gizi dengan bahasa sederhana, dilengkapi penayangan video edukatif. Peserta tampak antusias memperhatikan layer.

Setelah pemaparan materi, dibuka sesi diskusi. Ibu-ibu balita aktif bertanya mengenai masalah sehari-hari, seperti bagaimana membuat variasi makanan bergizi dengan bahan sederhana, atau bagaimana membiasakan anak yang sulit makan sayur.

Diskusi ini menjadi ruang belajar dua arah yang memperkuat pemahaman warga.

Baca Juga:PPPK Paruh Waktu 2025: Cara Cek Nama Honorer yang Diusulkan Lengkap dengan StatusnyaPakai NIK KTP Begini Cara Cek Penerima Bansos PKH dan BPNT 2025

Hasil Nyata: Pengetahuan Meningkat, Sikap Lebih Positif

Evaluasi sederhana melaluipre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan pemahaman gizipada peserta.

Sebagian besar ibu balita mampu menjawab dengan benar pertanyaan seputar porsimakan seimbang dan pemberian MP-ASI sesuai usia.

Kader posyandu juga memperoleh pengalaman baru dalam menggunakan video sebagai media edukasi.

“Dengan adanyatayangan video, penjelasan lebih mudah diterima warga. Kami juga jadi lebih percaya diri untuk menyampaikan kembali di posyandu,” ujar salah satu kader.

0 Komentar