JABAR EKSPRES – Rumah sejumlah anggota DPR hingga menteri mengalami penjarahan oleh oknum massa, sejak Sabtu (30/8) hingga Minggu (31/8/2025) dini hari.
Terbaru, beredar sebuah rekaman video yang memperlihatkan sejumlah massa menggeruduk kediaman Menteri Keuangan, Sri Mulyani di Kawasan Bintaro, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten.
Narasi dalam video menyebut bahwa massa yang didominasi oleh remaja itu menerobos masuk kawasan rumah Sri Mulyani, setelah sempat bersitegang dengan sejumlah aparat keamanan yang tengah bertugas.
Baca Juga:Aksi Buruh di Jakarta Telan Korban, Prabowo: Saya Kecewa, Tindakan Petugas Berlebihan!Bandung Memanas! Mess MPR RI dan Videotron Dibakar Massa Aksi, Tembakan Gas Air Mata Diduga jadi Pemicu
Namun dalam video tersebut, oknum massa yang dikabarkan menjarah kediaman Menkeu itu, tampak bertegur sapa hingga bersalaman dengan beberapa orang berseragam TNI yang tampak berada di lokasi.
“Siap, siap,” ujar pria berseragam TNI dalam video tersebut, sambil menyalami massa.
Sebelumnya, aksi penjarahan oleh oknum massa juga terjadi di rumah Anggota DPR RI, Ahmad Sahroni pada Sabtu siang.
Menanggapi rentetan peristiwa itu, sejumlah pandangan mulai beredar baik di kalangan masyarakat hingga public figure. Salah satunya, musisi Ananda Badudu.
Personel grup musik Banda Neira tersebut juga mengingatkan publik untuk mewaspadai “Cipta Kondisi” terkait kejadian-kejadian belakangan ini.
Menurutnya, dalam dunia intelijen, terdapat istilah yang disebut “Cipta Kondisi”. Di mana sebuah “kondisi” perlu “diciptakan” untuk melegitimasi suatu langkah atau tindakan tertentu, dalam hal ini, langkah atau tindakan yang diambil presiden.
Ia menyebut bahwa intelijen tidak sekadar membantu pemerintah, dalam hal ini presiden, dalam memberikan analisis atau rekomendasi tertulis saja.
Baca Juga:Pengemudi Ojol Dilindas Rantis Brimob, Tagar Polisi Pembunuh Rakyat Trending di XRatusan Driver Ojol Gelar Aksi Damai di Polres Bogor, Ini 3 Tuntutannya!
Dalam kasus-kasus tertentu, lanjut dia, intelijen juga bisa menjadi eksekutor dalam “menciptakan” atau “memfabrikasi” kondisi itu.
“Enggak cuma polisi yang punya petugas di jalanan, intelijen juga punya banyak agen yang bertugas sebagai eksekutor lapangan. Dan agen-agen inilah yang bekerja melakukan pekerjaan “kotor” yang perlu dilakukan untuk memuluskan apapun langkah yang akan diambi pemerintah,” kata Ananda melalui Instagram pribadinya, dikutip Minggu.
Adapun, dibandingkan dengan polisi, musisi yang sempat menjadi warwatan itu menyebut bahwa kerja intelijen jauh lebih berwarna, bervariasi, dan kreatif.
Dalam melakukan “Cipta Kondisi”, kata dia, intelejen dapat menggunakan cara apapun dan berkamuflase menjadi siapapun.
