Selain melalui grup, ada pula supplier yang lebih serius dengan membuat aplikasi khusus. Aplikasi ini diklaim bisa menghasilkan uang dengan tugas sederhana, yaitu mem-follow akun-akun media sosial tertentu. Mekanisme ini dimanfaatkan oleh toko-toko yang ingin menyediakan layanan followers organik secara freelance.
Bahkan, ada juga penyedia besar yang memiliki ratusan hingga ribuan orang sungguhan yang bekerja sama untuk mem-follow akun pelanggan. Karena melibatkan akun asli, harga followers organik ini tentu lebih mahal dibandingkan followers bot.
Namun, ada pula toko yang menggabungkan dua metode sekaligus. Misalnya, dari pesanan 1.000 followers, 500 berasal dari akun bot, sementara 500 lainnya berasal dari akun organik. Dengan begitu, harga yang ditawarkan berada di tingkat menengah, tidak terlalu mahal, tetapi juga tidak murah. Persaingan antarpenyedia jasa ini biasanya terletak pada harga, kecepatan pengiriman, bonus followers tambahan, serta daya tahan followers yang diberikan.
Baca Juga:Tunjangan DPR Rp50 Juta per Bulan Picu Polemik, Janji Dibagikan ke MasyarakatMembongkar 13 Tunjangan DPR yang Bikin Geram, Dari Rumah Mewah hingga Pajak Dibayari Negara
Mengapa daya tahan menjadi penting? Karena pada dasarnya, semua followers hasil pembelian, baik bot maupun organik premium, tetaplah tidak asli dan tidak berguna.
Lalu siapa sebenarnya yang membeli followers?
Umumnya, mereka adalah orang-orang yang ingin cepat menjadi influencer atau sekadar ingin terlihat memiliki banyak pengikut. Akan tetapi, fenomena ini juga merambah ke ranah profesional. Beberapa akun bisnis, seperti restoran atau brand tertentu, kadang membeli followers bukan karena gengsi, tetapi demi membangun kesan kredibilitas. Masyarakat memang cenderung lebih percaya pada akun brand dengan jumlah pengikut besar.
Meski begitu, apa pun alasannya, membeli followers pada dasarnya sudah tidak relevan bahkan berisiko. Mengapa? Karena media sosial masa kini tidak lagi berfokus pada jumlah pengikut, melainkan pada atensi (attention) dan retensi (retention).
Kini, akun kecil dengan ratusan followers saja bisa tiba-tiba viral, masuk FYP, atau muncul di beranda. Semua itu bukan karena jumlah followers, melainkan karena kualitas konten yang mampu menarik perhatian warganet, baik dengan cara memicu perdebatan, komentar, likes, maupun share.
Bayangkan, jika akun Anda memiliki 200 followers asli, yang terdiri dari teman, keluarga, atau orang yang memang mengenal Anda, lalu Anda membeli 800 followers tambahan agar terlihat mencapai 1.000. Followers tambahan itu, baik bot, organik, maupun campuran, hanyalah “pengikut bayaran” yang tidak pernah benar-benar mengenal atau tertarik dengan Anda. Mereka hadir hanya karena sistem, bukan karena ikatan.
