JABAR EKSPRES – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung mulai mengidentifikasi ribuan rumah yang rentan terdampak gempa menyusul meningkatnya aktivitas Sesar Lembang. Upaya ini menjadi bagian dari strategi mitigasi untuk meminimalisir risiko kerusakan bangunan dan korban jiwa.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung, Didi Ruswandi, mengatakan hingga saat ini sudah ada sekitar 1.000 rumah yang diidentifikasi tingkat kerentanannya. Proses tersebut dilakukan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Universitas Katolik Parahyangan (Unpar).
“Rumah-rumah itu nanti dipilah, mana yang tahan gempa dan mana yang tidak. Identifikasi dilakukan di setiap kecamatan untuk mengetahui kondisi riil di lapangan,” kata Didi, Rabu (27/8).
Baca Juga:Bandung Barat di Jalur Gempa, Rumah di Atas Sesar Lembang Terancam DipindahPemkot Bandung Siapkan Kampung Bencana Antisipasi Mitigasi Sesar Lembang
Apabila ditemukan rumah yang tidak layak secara struktur, BPBD menyiapkan skenario alternatif berupa penyediaan meja kokoh yang bisa digunakan sebagai ruang lindung darurat saat gempa.
“Kalau membangun ulang butuh biaya besar dan waktu lama, sementara syarat renovasi rumah lewat APBD juga ketat. Jadi solusi yang paling logis adalah menambah kapasitas masyarakat, salah satunya dengan meja kokoh sebagai tempat berlindung,” ujarnya.
Menurut Didi, opsi renovasi rumah dengan anggaran pemerintah memiliki keterbatasan regulasi. Rumah yang berdiri di atas lahan bukan milik pribadi, misalnya, tidak bisa dibiayai APBD. Sementara dukungan dari CSR sejauh ini belum memadai.
Langkah pemetaan rumah rawan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Pemerintah Kota Bandung dalam menghadapi potensi gempa dari Sesar Lembang, yang menurut para ahli telah memasuki siklus aktifnya.
“Fokus utama saat ini adalah meningkatkan kesiapsiagaan warga. Minimal setiap rumah memiliki ruang lindung sederhana untuk menekan risiko saat terjadi gempa,” pungkasnya.
