JABAR EKSPRES – Di balik perbukitan yang asri di Desa Tambaksari, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, tersembunyi sebuah situs purbakala yang menyimpan fragmen penting sejarah kebudayaan Sunda.
Situs Geger Sunten, namanya, bukan sekadar tumpukan batu dan struktur kuno, melainkan saksi bisu kelahiran sebuah perlawanan heroik. Di tempat inilah, legenda Ciung Wanara, sang pahlawan pembebas dari tirani Raja Tamperan Barmawijaya, penguasa Kerajaan Galuh pada abad ke-8, mulai ditorehkan.
Rakeyan Panaraban, atau yang lebih dikenal sebagai Raja Tamperan, memegang tampuk kekuasaan Kerajaan Galuh dari tahun 725 hingga 739 Masehi.
Baca Juga:Mager Keluar Rumah? Ini 10 Aktivitas Self-Healing yang Bisa Kamu Lakukan di Rumah SajaGlowing ala Jang Wonyoung? Ternyata Nggak Perlu Skincare Mahal, Ini Rahasianya!
Masa pemerintahannya dicatat oleh sejarah lisan dan babad sebagai era yang kelam, penuh dengan kekerasan dan penindasan terhadap rakyat.
Dari balik bayang-bayang kekejaman inilah, muncul sosok penyeimbang, Ciung Wanara. Ia adalah putra mahkota yang sah dari Prabu Adimulya Permanadikusumah dan Dewi Naganingrum, yang nasibnya berliku.
Untuk menyelamatkannya dari intrik kerajaan, ia diasuh dan dibesarkan secara rahasia di kawasan Geger Sunten oleh seorang penasihat kerajaan yang setia, Aki Balangantrang.
Menurut Ketua LMDH Geger Sunten, Dodo Soleh Wijaya, lingkungan Geger Sunten membentuk Ciung Wanara menjadi seorang pemuda yang cerdas, berwibawa, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang alami.
“Di sini, ia tumbuh jauh dari kemewahan istana, justru dekat dengan alam dan rakyat kecil. Salah satu kesukaannya adalah menyabung ayam, yang pada masa itu bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi simbol perlawanan dan perlambang kejantanan melawan kekuasaan yang zalim,” ujar Dodo, Selasa (26/8/2025).
Tahun 739 Masehi menjadi titik balik yang menentukan. Saat Raja Tamperan menggelar sebuah sayembara sabung ayam besar-besaran, Ciung Wanara muda memberanikan diri untuk turut serta.
Ayam jagoannya, yang penuh dengan muatan perlambang harapan rakyat, berhasil mengalahkan ayam jago sang raja dalam pertarungan yang sengit.
Baca Juga:Akses Jalan Sementara Saleh Danasasmita Segera Dibuka, Wali Kota Dedie Rachim Tinjau LokasiPasokan Gas ke Industri Kembali Normal, PGN Pastikan Distribusi 100% Aman
Menurut kesepakatan sayembara, kemenangan itu seharusnya mengantarkan Ciung Wanara untuk menggantikan Tamperan. Namun, sang raja ingkar janji. Bukannya memberikan tahta, ia justru menjebloskan Ciung Wanara ke dalam penjara.
Pengkhianatan itu tidak mematahkan semangat Ciung Wanara. Dengan kecerdikan dan bantuan dari luar, ia berhasil meloloskan diri dari kurungan.
