Ekonom Nilai Perpaduan Bandara Kertajati dengan Pusat Industri Pertahanan Kontraproduktif

Aktivitas masyarakat di BIJB Kertajati. (son)
Aktivitas masyarakat di BIJB Kertajati. (son)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, Acuviarta Kartabi turut bersuara terkait gagasan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi. Yaitu tentang menjadikan BIJB Kertajati sebagai pusat industri pertahanan dan kawasan ekonomi khusus (KEK).

Acu menuturkan, pihaknya sependapat jika pengembangan kawasan industri pertahanan itu dalam konteks Kawasan Rebana. Karena sesuai perencanaan, di Kawasan Rebana bakal dibangun sekitar 13 Kawasan Industri.

“Kalau pengembangan industri apapun dalam konteks Rebana bagus-bagus saja, ” terangnya, Selasa (26/8).

Baca Juga:Mager Keluar Rumah? Ini 10 Aktivitas Self-Healing yang Bisa Kamu Lakukan di Rumah SajaGlowing ala Jang Wonyoung? Ternyata Nggak Perlu Skincare Mahal, Ini Rahasianya!

Kawasan Metropolitan Rebana merupakan mega proyek kolaborasi Pemerintah Pusat dan Pemprov Jabar. Itu proyek pengembangan kawasan meliputi 7 daerah di Jabar, yakni Kabupaten Sumedang, Majalengka, Cirebon, Subang, Indramayu, Kuningan dan Kota Cirebon. Nilai investasi di kawasan itu tercatat tembus Rp 234 triliun.

Selain proyek strategis seperti Bandara Kertajati, di kawasan itu juga bakal dibangun 13 Kawasan Peruntukan Industri (KPI). Seperti KPI Patimban, Cipali Subang Barat, Cipali Subang Timur, Balongan, hingga Jatiwangi.

Namun Acu kurang sependapat jika pengembangan industri pertahanan itu dipadukan langsung dengan Bandara Kertajati. Termasuk Pangkalan TNI AU. “Itu perlu dikaji. Karena konsepnya BIJB bandara komersil, ” terangnya.

Acu mencontohkan, kinerja Bandara Husein Sastranegara kurang bisa optimal karena harus berbagai peran dengan beberapa elemen. Mulai dari Pangkalan TNI AU, hingga PTDI.

“Saya kurang sependapat. Itu kontraproduktif. Kalau bicara BIJB sebagai aerocity agak susah jika dipadukan langsung dengan industri pertahanan. Jangan sampai itu malah jadi penghambat, ” terangnya.

Pihaknya lebih setuju jika memang industri pertahanan ada di luar BIJB. Semangatnya sebagai mana pengembangan kawasan Metropolitan Rebana.

Beberapa hari lalu, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyampaikan gagasan baru soal Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, yakni jadi pusat industri pertahanan dan kawasan ekonomi khusus.

Baca Juga:Akses Jalan Sementara Saleh Danasasmita Segera Dibuka, Wali Kota Dedie Rachim Tinjau LokasiPasokan Gas ke Industri Kembali Normal, PGN Pastikan Distribusi 100% Aman

Hal itu diungkapkan Jumat (22/8), menurutnya, Bandara Kertajati cocok untuk pusat industri pertahanan dan kawasan ekonomi khusus.

“Makanya nanti seperti PTDI, PT Pindad bisa berputar di sana (kawasan BIJB Kertajati. Red),” cetusnya.

Pria yang akrab disapa KDM melanjutkan, nantinya seperti Angkatan Udara bisa berpusat di BIJB Kertajati. Berpadu dengan kawasan ekonomi. “Pesawat tempur juga bisa di sana,” terangnya.

0 Komentar