JABAR EKSPRES – Film animasi “Merah Putih: One for All” yang rencananya tayang di bioskop pada 14 Agustus 2025 sebenarnya punya misi mulia: mengangkat tema kebangsaan lewat petualangan seru anak-anak. Sayangnya, bukannya menuai pujian, film ini justru jadi bahan perbincangan panas di media sosial setelah trailer resminya rilis.
Banyak warganet yang merasa hasilnya jauh di bawah ekspektasi, baik dari segi visual, cerita, maupun cara promosinya.
Biar lebih jelas, berikut enam alasan kenapa “Merah Putih: One for All” banjir kritik pedas dari netizen.
Baca Juga:6 Iblis Bulan Paling Kuat di Demon Slayer, Nomor 1 Nyaris Tak TerkalahkanHarga Emas Antam Terus Turun, Kini Tembus Rp1,917 Juta per Gram
6 Alasan Merah Putih: One for All Tuai Kritik Pedas:
1. Visual Animasi yang Dinilai Kurang Matang
Salah satu keluhan paling sering muncul adalah kualitas animasinya. Banyak yang bilang tampilannya masih terasa kaku dan belum mulus, apalagi kalau dibandingkan sama standar animasi lokal sekarang yang udah makin keren.
Netizen merasa film ini belum siap bersaing, padahal animasi Indonesia beberapa tahun terakhir udah berhasil menunjukkan kemajuan pesat, bahkan di kancah internasional.
2. Ekspektasi Tinggi Gara-Gara Klaim Promosi
Tim promosi film sempat mengklaim “Merah Putih: One for All” sebagai film animasi anak Indonesia pertama bertema kebangsaan.
Klaim ini bikin banyak orang pasang ekspektasi tinggi mereka membayangkan film yang dramatis, visual yang bikin merinding, dan cerita yang kuat.
Tapi setelah lihat trailernya, sebagian besar merasa isi dan kualitasnya nggak sebanding sama gembar-gembor promosinya.
3. Cerita di Trailer yang Terasa Kurang Nendang
Secara konsep, ceritanya lumayan menarik: delapan anak berpetualang nyari bendera merah putih yang hilang, melewati hutan dan rintangan demi membela simbol kebanggaan bangsa.
Tapi masalahnya, di trailer, penyampaian ceritanya terasa datar dan nggak terlalu memancing rasa penasaran.
Baca Juga:Panduan Lengkap Cara Membuat Akun SSCASN untuk Pendaftaran CPNS 2025Taylor Swift Umumkan Album Baru Lengkap dengan Playlist Spotify Khusus
Banyak yang bilang narasinya masih kurang emosional dan nggak cukup kuat buat bikin penonton muda terinspirasi.
4. Perbandingan dengan “Battle of Surabaya”
Mau nggak mau, film ini dibandingin sama Battle of Surabaya (2015) yang juga bawa tema perjuangan Indonesia.
Battle of Surabaya waktu itu sukses secara visual, punya cerita yang solid, dan bahkan dapat penghargaan internasional.
