P2WKSS Dorong Kemandirian Perempuan di Cimahi Lewat Program Berkelanjutan

Lewat P2WKSS, Pemkot Cimahi Dorong Pemberdayaan Perempuan Berkelanjutan
Ketua TP PKK Kota Cimahi, Midjiati Ningsih saat Sambutan dalam Pembukaan Pembinaan dan Pelatihan Program P2WKSS 2025 di Kelurahan Cigugur Tengah (mong)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pemberdayaan perempuan di Kota Cimahi tak lagi sekadar wacana. Melalui Program Terpadu Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat Sejahtera (P2WKSS) dan Sekolah Perempuan Jawa Barat 2025, Pemkot Cimahi fokus mendorong kemandirian ekonomi dan peningkatan peran perempuan dalam kehidupan sosial dan pembangunan di tingkat komunitas.

Program ini dilaksanakan oleh TP PKK bersama Dinas P3AP2KB di Kelurahan Cigugur Tengah, Senin (11/8/25). P2WKSS dirancang sebagai langkah strategis untuk memberdayakan perempuan dalam pembangunan, meningkatkan kapasitas dan keterampilan, serta mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.

Selain itu, program ini turut menyasar perbaikan infrastruktur dan lingkungan permukiman sebagai bagian dari pemberdayaan berbasis komunitas.

Baca Juga:Gagal di Community Shield, Van Dijk Akui Liverpool Belum Siap Jaga TahtaJay Idzes Tembus Serie A Lagi: Resmi Gabung Sassuolo, Siap Hadapi Juara Bertahan!

Ketua TP PKK Kota Cimahi, Midjiati Ningsih, yang juga merupakan istri Wali Kota Cimahi, menegaskan bahwa pelaksanaan P2WKSS telah dipersiapkan secara matang agar benar-benar berdampak pada peningkatan peran perempuan di masyarakat.

“Kita dari PKK Kota Cimahi dengan dinas terkait ada persiapan untuk P2WKSS,” ujarnya saat ditemui Jabar Ekspres di lokasi.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk serta Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Cimahi, Fitriani Manan, menyampaikan bahwa program ini menyasar 100 kepala keluarga binaan, yang seluruhnya adalah perempuan. Mereka akan mendapatkan pembinaan intensif untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta wawasan ekonomi dan sosial.

“Jadi di sini itu tidak hanya SDM-nya saja, tapi juga lingkungannya dibuat lebih nyaman. Tidak hanya lingkungan sosialnya, tetapi ada perbaikan fisik,” jelasnya.

Dalam aspek fisik, program ini mencakup perbaikan 10 unit rumah tidak layak huni (rutilahu), pembangunan jalan setapak menggunakan paving block, serta penyediaan fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) yang layak.

“Jadi secara fisik ada terlihat perubahan penataan lingkungannya, tetapi secara sosialnya juga mereka lebih diberdayakan,” imbuhnya.

Terkait indikator keberhasilan, Fitriani menegaskan bahwa tujuan akhir program adalah tercapainya kondisi masyarakat yang sehat dan sejahtera.

Baca Juga:Ribuan Peserta dari 22 Negara Ramaikan Dieng Trail Run 2025, Dongkrak Pariwisata JatengHujan Deras Picu Longsor di Bubulak Bogor, Jalan Setapak Tertutup Material

“Kalau sejahtera mungkin dilihat dari perekonomiannya, kalau sehat mungkin nanti dilihat dari gizi buruknya berkurang. Kebetulan di sini tidak ada yang gizi buruk, adanya gizi kurang,” ungkapnya.

0 Komentar