Ia menambahkan bahwa tahun ini menjadi momentum spesial karena pelaksanaan KKN dilakukan beriringan dengan kegiatan pengabdian masyarakat (pengmas) oleh dosen, sehingga memberikan ruang bagi kolaborasi lintas generasi akademik.
“Harapannya, mahasiswa bisa belajar langsung dari dosen di lapangan, sekaligus membangun kedekatan dengan masyarakat,” ujarnya.
Salah satu peserta KKN, Pilgi Herdian, mahasiswa Prodi S1 Keperawatan yang ditempatkan di Desa Cikawao, Kabupaten Bandung, menyatakan antusiasmenya terhadap program ini.
Baca Juga:Gagal di Community Shield, Van Dijk Akui Liverpool Belum Siap Jaga TahtaJay Idzes Tembus Serie A Lagi: Resmi Gabung Sassuolo, Siap Hadapi Juara Bertahan!
“KKN ini jadi pengalaman berharga buat kami, karena kami bisa mengaplikasikan ilmu keperawatan langsung ke masyarakat. Kami juga belajar beradaptasi dan berkomunikasi dengan warga desa. Banyak hal yang tidak bisa didapat di bangku kuliah,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Zamul Marwaidah, mahasiswa Prodi S1 Farmasi yang melaksanakan KKN di Desa Mekarwangi, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung.
“Saya merasa senang bisa ikut terlibat langsung dalam kegiatan yang membawa manfaat nyata untuk masyarakat. Kami membuat program edukasi penggunaan obat yang benar, dan ternyata respon masyarakat sangat baik. Ini menambah motivasi kami untuk terus berkontribusi,” ungkap Zamul.
Menutup pernyataannya, Entris menegaskan bahwa pelaksanaan KKN ini tidak hanya tentang keberadaan mahasiswa di desa selama beberapa minggu, tetapi juga soal bagaimana membentuk kepekaan sosial, tanggung jawab, dan kesiapan menghadapi dunia kerja.
“Harapannya tentunya bahwa keberadaan Universitas Bhakti Kencana itu dirasakan oleh masyarakat. Tidak hanya setelah lulus mengabdi di sarana pelayanan kesehatan. Karena background di kami prodinya adalah prodi kesehatan, tapi sebelum lulus pun mahasiswa kami sudah punya dampak kepada masyarakat sebagai awal dari dia bersosialisasi,” tegasnya
