Luncurkan RS Maranatha, Menkes Minta Efisiensi dan Aksi

RS Unggul Karsa Medika Resmi Bertransformasi Menjadi RS Maranatha
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin saat menghadiri peresmian transformasi RS Unggul Karsa Medika menjadi RS Maranatha, di Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Kamis (7/8/2025). Foto Agi
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Rumah Sakit Unggul Karsa Medika resmi bertransformasi menjadi Rumah Sakit Maranatha, ditandai dengan peresmian dua gedung baru yakni Gedung F dan Gedung G, di Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Kamis (7/8/2025).

Acara peresmian dihadiri langsung oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, serta para pemangku kepentingan dari pemerintahan, akademisi, dan sektor pelayanan kesehatan.

Dalam sambutannya, Menkes Budi menyambut baik hadirnya RS Maranatha sebagai rumah sakit pendidikan yang modern dan bersih. Ia bahkan sempat memuji langsung kondisi rumah sakit tersebut.

Baca Juga:Beckham Putra Yakin Persib Tampil Tangguh di Super League 2025/2026, Akui Sudah Siap Tempur!55 Jurnalis Jadi Korban Kekerasan, Komnas HAM Desak Aksi Nasional Perlindungan Pers

“Bapak Ibu, saya tadi masuk Rumah Sakit Maranatha, rumah sakitnya bersih dan bagus. Jadi mudah-mudahan nanti bisa terus dijaga bersih dan bagus sampai 5–10 tahun lagi,” kata Menkes Budi.

Namun demikian, ia juga menyoroti pentingnya efisiensi dan keberlanjutan keuangan rumah sakit, termasuk dalam menghadapi tantangan pembiayaan dari BPJS.

“Saya tanya, ini sudah positif atau masih minus? Ternyata masih minus karena ngurusin BPJS. BPJS bayarnya lama,” ungkapnya.

Sebagai mantan bankir, Menkes Budi membagikan pengalamannya dalam mengelola rumah sakit milik Kemenkes dan menekankan perlunya rumah sakit swasta maupun yayasan untuk efisien dalam pengadaan alat dan obat.

“Saya temukan satu rumah sakit yang 95 persen pasiennya BPJS, tapi marginnya bisa 23 sampai 28 persen. Itu artinya bisa, asal efisien. Ada rumah sakit yang beli alat sampai dua kali lipat dari harga standar,” jelasnya.

Ia menyarankan agar RS Maranatha memperhatikan harga alat kesehatan dan obat-obatan yang dibeli.

“Ada yang beli satu set alat orthopedi seharga Rp36 juta, padahal ada yang bisa dibeli Rp18 juta. Itu harus dikontrol,” tegasnya.

Baca Juga:Peran Strategis Babinsa dan PPL Percepat Serapan Gabah Petani di CirebonPulang Sebagai Lawan, De Gea Siap Tampil di Old Trafford Bersama Fiorentina

Menkes juga menekankan pentingnya peningkatan produksi dokter spesialis dan dokter umum di Indonesia, serta peran institusi pendidikan seperti Universitas Kristen Maranatha dalam mendorong percepatan tersebut.

“Indonesia hanya menghasilkan 2.700 dokter spesialis per tahun. Itu jauh dari cukup. Vietnam saja sudah 9.000, Inggris 12.000, dan Amerika 42.000. Kita bahkan kalah dari Timor Leste,” katanya.

Ia berharap RS Maranatha tidak hanya melayani, tetapi juga mendidik.

0 Komentar