Ekonom Unpas Nilai Pertumbuhan Ekonomi Jabar Kurang Bertenaga Secara Q-to-Q, Ini Penjelasannya!

Ekonom Unpas Nilai Pertumbuhan Ekonomi Jabar Kurang Bertenaga Secara Q-to-Q, Ini Penjelasannya!
Laju pertumbuhan lapangan usaha perdagangan cukup rendah pada triwulan II. Diduga bergeser ke pariwisata dan pendidikan. (son/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Ekonom Unpas Acuviarta Kartabi menilai pertumbuhan ekonomi Jabar di triwulan II kurang bertenaga secara q-to-q (quarter-to-quarter). Sektor perdagangan lesu karena teralihkan momen liburan.

Acu menguraikan, data BPS terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi Jabar triwulan II secara tahunan mampu mencapai 5,23 persen secara y-on-y (year-on-year). Pertumbuhan tersebut di atas pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama yang tembus 5,12 persen.

Namun kondisinya berbeda jika dilihat secara q-to-q atau perbandingan dengan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi triwulan II terhadap triwulan I di Jabar hanya tumbuh 2,33 persen. Sedangkan pertumbuhan triwulan secara nasional mampu tumbuh lebih tinggi 4,04 persen. “Jadi kalau secara q-to-q nampak kurang bertenaga,” cetusnya.

Baca Juga:PPATK Sebut Transaksi Deposit Judol Turun Drastis Efek Pemblokiran Rekening Pasif, Benarkah?Pemerintah Sebut Belanja Online Bukti Tak Ada Pelemahan Daya Beli, Benarkah?

Acu melanjutkan, untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi 2025 hingga akhir tahun, kinerja pertumbuhan lapangan usaha dengan distribusi besar seperti industri manufaktur, perdagangan, pertanian, konstruksi dan infokom diharapkan bisa semakin diperkuat. Agar hasilnya sesuai harapan.

Sementara dari sisi pengeluaran, peningaktan konsumsi rumah tangga dan investasi juga sangat diharapkan mampu tumbuh lebih tinggi pada triwulan III dan IV dibandingkan triwulan II.

Menurut Acu, Faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi Jabar di triwulan II secara q-to-q ditopang oleh lapangan usaha kelompok jasa dengan distribusi menengah, seperti lapangan usaha jasa lainnya, jasa kesehatan dan jasa pendidikan.

“Selain juga lapangan usaha transportasi yang memang kuat permintaannya pada musim libur di sepanjang triwulan II,” cetusnya.

Adapun lapangan usaha distribusi besar yang kurang bertenaga di triwulan II adalah lapangan usaha perdagangan. Di mana lapangan usaha itu hanya tumbuh 0,22 persen secara q-to-q. Meski mobilitas kunjungan wisatawan ke Jabar meningkat pesat 29,16 persen secara y-on-y.

Menurut Acu, rendahnya pertumbuhan lapangan usaha perdagangan diperkirakan karena faktor masih terbatasnya daya beli masyarakat. Padahal pada saat bersamaan tingkat inflasi cukup terjaga dan rendah.

“Kemungkinan pengeluaran tersedot pada kepariwisataan. Karena musim liburan. Juga untuk kebutuhan biaya pendidikan yang berlangsung pada periode itu,” bebernya. (son)

Reporter: Hendrik Muchlison

0 Komentar