LIMBAH, anak-anak, dan seniman tanpa panggung megah. Pada suatu sore di penghujung Juli, ratusan anak menari di atas panggung Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat. Semua merayakan seni tanpa keajaiban. Cukup dengan keberanian.
Muhamad Nizar, Jabar Ekspres.
“Yang kita rayakan bukan kehebatan panggung, tapi keberanian menyampaikan sesuatu,” ujar Deden Bulenk, Direktur Festival kepada Jabar Ekspres tempo lalu.
Gerak mereka lumayan sempurna, iramanya kadang tersendat. Tapi di antara langkah yang masih belajar dan kain batik yang dikibarkan ke udara, terlihat semangat yang jarang muncul di festival seni bertiket mahal. Keberanian untuk tampil, apa adanya.
Baca Juga:11 Bangunan Liar Tak Berizin di Baranangsiang Bogor Dibongkar!Bendera One Piece Terlihat di Gor Laga Satria, Dispora Bogor Angkat Bicara
Itu pembuka dari Bandung Arts Festival (BAF) ke-11. Sebuah festival yang tidak menjanjikan kemewahan, tapi menyodorkan ruang. Ruang terbuka, cair, dan bebas diisi siapa saja.
Tahun ini, BAF mengangkat tema ‘Jejak Budaya dalam Jelajah Limbah’. Sebuah tema yang lahir dari kegelisahan kolektif tentang darurat sampah di Kota Bandung dan tentang bagaimana seni bisa lahir dari yang dibuang.
Limbah bukan hanya bahan, tapi juga pesan. “Kami ingin menjadikan sampah sebagai medium berekspresi. Kita menyentuh isu lingkungan dari sisi budaya,” kata Deden.
Limbah dijelmakan menjadi alat musik, topeng, properti tari, dan dekorasi panggung. Sebanyak 94 pertunjukan digelar dalam empat hari. Lebih dari 1.200 seniman terlibat, termasuk delegasi dari sembilan negara.
Di hari terakhir, mereka menyatu dalam satu kolaborasi lintas budaya. Mulai dari musik, tari, dan visual bergerak dalam satu nafas. Beberapa penampilan menyisakan kesan kuat.
Seperti Bocah Nelayan, karya seniman muda dari Bekasi, yang menggambarkan anak-anak pesisir menjaga laut dari kerusakan. Atau penampilan dari seniman asal Kolombia, yang membawa narasi hutan sebagai paru-paru dunia, dibalut dalam ritual gerak yang hening dan lambat.
Tahun ini, BAF juga bersinggungan dengan Hari Anak Nasional. Pembukaan festival melibatkan 200 anak menari bersama. “Kami ingin merangkul generasi baru, memperkenalkan mereka pada seni yang membumi,” kata Deden.
Baca Juga:Semangat Kemerdekaan di Taman Safari Bogor: Nikmati Parade Satwa & Promo Agustus Seru!Semangat Kemerdekaan di Taman Safari Bogor: Nikmati Parade Satwa & Promo Agustus Seru!
Banyak dari anak-anak itu yang belum pernah tampil di panggung profesional. Menurutnya tidak ada hotel berbintang atau jamuan gala. Sebagian besar seniman datang atas biaya sendiri.
