Panitia hanya menyiapkan ruang tampil dan relawan teknis. Tapi justru di situlah BAF berdiri. Dari semangat saling bantu, dari kebersamaan yang tidak dibuat-buat.
Masyarakat sekitar ikut membuat instalasi, ikut angkut kursi, ikut jaga giliran di panggung. “Ada yang jadi panitia sukarela, ada yang nyumbang properti,” ujar Deden.
Setelah sebelas tahun berjalan, BAF tidak menyisakan papan nama raksasa atau baliho sponsor. Tapi ia meninggalkan sesuatu yang lebih senyap: jejaring seniman yang tumbuh diam-diam, contoh bagi kota lain, dan keyakinan bahwa seni bisa hidup meski tanpa dana besar.
Baca Juga:11 Bangunan Liar Tak Berizin di Baranangsiang Bogor Dibongkar!Bendera One Piece Terlihat di Gor Laga Satria, Dispora Bogor Angkat Bicara
Maka yang ditinggalkan Bandung Arts Festival tahun ini bukan hanya plastik yang diubah jadi estetika, atau tari yang selesai di panggung. Tapi keyakinan sederhana: bahwa dalam keterbatasan, seni tetap bisa bernapas. Dalam sisa, ada yang bertumbuh.
“Festival itu tidak harus eksklusif. Kita ingin meninggalkan semangat bahwa seni adalah milik bersama,” pungkasnya.
