Lantas, Apa Penyebabnya?
Ternyata, ada beberapa faktor utama yang menyebabkan harga mobil listrik bekas turun drastis:
1. Kekhawatiran Terhadap Umur Baterai
Meskipun mobil listrik menawarkan teknologi canggih, desain futuristik, perawatan sederhana, dan tidak perlu mengisi bahan bakar minyak, masih banyak masyarakat Indonesia yang ragu. Salah satu kekhawatiran terbesar adalah umur baterai.
Harga baterai mobil listrik bisa mencapai sepertiga dari harga mobil itu sendiri. Misalnya, pada Wuling Air EV yang kini dijual sekitar Rp150 jutaan, harga baterai barunya bisa mencapai Rp100 juta. Itu setara dengan harga mobil bekasnya sendiri.
Baca Juga:7 HP Infinix Terbaik 2025 dengan Spesifikasi Tinggi dan Harga Terjangkau10 Fitur Baru iOS 26 Keren Ini Wajib Dicoba Pengguna iPhone di 2025
Sedangkan untuk Hyundai Ioniq 5, harga baterai pengganti bisa mencapai Rp300 juta, lebih dari setengah harga mobil bekasnya. Bayangkan, Anda membeli mobil seharga Rp400 juta, lalu ketika baterainya rusak, Anda harus mengeluarkan Rp300 juta lagi. Uang sebesar itu bahkan sudah cukup untuk membeli Toyota Avanza baru.
2. Minimnya Permintaan di Pasar Sekunder
Harga mobil bekas, termasuk mobil listrik, sangat bergantung pada permintaan pasar. Karena kekhawatiran terhadap baterai dan biaya penggantiannya yang mahal, banyak orang enggan membeli mobil listrik bekas. Akibatnya, permintaan rendah memaksa dealer untuk menurunkan harga jual secara drastis agar unit bisa laku.
3. Biaya Produksi Baterai yang Sangat Mahal
Akar permasalahan dari mahalnya mobil listrik adalah baterai. Baterai mobil listrik pada dasarnya mirip dengan baterai ponsel atau laptop, namun dalam skala jauh lebih besar. Di dalamnya terdapat komponen bernama katoda, yang menjadi sumber biaya terbesar karena mengandung material seperti kobalt, litium, dan mangan, semuanya merupakan bahan premium yang mahal.
Mobil listrik memang menjanjikan masa depan otomotif yang lebih ramah lingkungan dan efisien. Namun, hingga saat ini, harga baterai yang mahal masih menjadi hambatan terbesar yang berdampak langsung pada nilai jual kembali kendaraan tersebut. Tanpa terobosan teknologi yang bisa menekan harga baterai secara signifikan, pasar mobil listrik bekas akan tetap menghadapi tantangan besar.
