JABAR EKSPRES – Jawa Barat mengalami inflasi sebesar 0,30 persen secara m-to-m pada Juli 2025. Di sisi lain, harga gabah di penggilingan juga naik.
Plt Kepala BPS Jabar Darwis Sitorus menguraikan, ada sejumlah komoditas yang memberikan andil inflasi. Penyumbang tertinggi berasal dari bahan bakar rumah tangga dengan 0,05persen, diikuti bawang merah 0,04 persen, beras 0,04 persen, lalu telur ayam ras 0,03 persen, dan bensin 0,03 persen.
Sementara komoditas penyumbang deflasi di antaranya, jeruk -0, 02 persen, ketimun -0, 01 persen hingga minyak goreng -0, 01 persen. “Sementara kalau secara y-o-y, terjadi inflasi 2,03 persen,” bebernya.
Baca Juga:Hanya 28 Kasus Covid-19 di Kabupaten Bogor Selama JanuariāJuli, Dinkes: Masyarakat Sudah Lebih TahanKomisi B Soroti Kasus PT BDS, Tegaskan Tak Ada Keterlibatan Langsung Bupati Bandung
Secara m-to-m, inflasi tertinggi terjadi di Kota Cirebon dengan 0,53 persen. Sedangkan inflasi terendah ada di Kota Bekasi dengan 0,11 persen.
“Di Cirebon itu komoditas penyumbang inflasi terbesar adalah beras, dengan 0,3 persen,” jelasnya.
Darwis juga menambahkan bahwa BPS mencatat perkembangan harga beras di penggilingan selama Juli 2025. Harga beras medium di penggilingan tercatat mencapai Rp13.173 per kilogram, sedangkan beras premium menyentuh Rp13.776 per kilogram.
Sehingga beras medium mengalami kenaikan 1,60 persen secara m-to-m. Sementara beras premium naik 2,57 persen m-to-m.
Menurut Darwis, tren inflasi ataupun kenaikan harga beras itu masih dalam kondisi terkendali. Artinya masyarakat tidak perlu sampai panik.
Sementara itu, Manajer Pengadaan Bulog Mujahidin menambahkan, saat ini memang tengah bergejolak isu beras oplosan di masyarakat. Namun hal itu tidak begitu berdampak pada Bulog. “Kami menjalankan distribusi sebagaimana penugasan yang kami terima,” bebernya.
Mujahidin melanjutkan, salah satu yang dilakukan adalah terkait penyerapan beras atau gabah petani. Itu juga sudah berjalan. “Sekarang itu sudah 507 ton. Sejah Januari 2025,” cetusnya. (son)
Reporter: Hendrik Muchlison
