JABAR EKSPRES – Kebijakan larangan membawa ponsel ke sekolah yang diterapkan Dinas Pendidikan Kota Cimahi telah diberlakukan di berbagai satuan pendidikan, termasuk di SMP Negeri 8 Kota Cimahi.
Aturan ini tidak hanya mengubah kebiasaan siswa dalam pembelajaran, tetapi juga memberi dampak sosial yang cukup signifikan.
“Di sekolah sendiri, kami mengikuti kebijakan dari dinas. Jadi, kalau ada surat edaran yang melarang anak membawa HP, ya kami ikuti,” ujar Humas SMPN 8 Cimahi, Ayi Hidayat, saat ditemui Jabar Ekspres di sekolahnya, Rabu (30/7).
Baca Juga:Dana Zakat Profesi Menghilang? Baznas Banjar Dituntut Transparan!Poilis Ungkap 1,4 Juta Butir Obat Keras, Jaringan di Batununggal Terbongkar
Kebijakan ini bukan muncul begitu saja. Awalnya, selama masa pandemi COVID-19, siswa masih diperbolehkan membawa HP karena kebutuhan pembelajaran daring.
Namun, setelah dievaluasi oleh Dinas Pendidikan dan pihak sekolah, ternyata penggunaan HP oleh siswa lebih banyak digunakan di luar konteks pembelajaran.
“Kalau dulu anak bawa HP kan ada list-nya untuk bantu pelajaran. Tapi setelah dipaluasi, ternyata lebih banyak mudaratnya. Anak kadang main game online, kadang asyik sendiri. Jadi dari saya pribadi sangat mendukung larangan ini,” katanya.
Menurut Ayi, sebagian besar siswa justru setuju dengan pelarangan ini. Larangan HP ini juga dikampanyekan secara konsisten kepada siswa setiap ada kesempatan.
“Setiap ada momen, kami selalu sampaikan soal edaran dari Dinas Pendidikan Cimahi. Anak-anak juga sudah paham, dan orang tua pun tidak ada yang protes,” jelasnya.
Dalam forum rapat orang tua, sekolah juga rutin menyampaikan bahwa ada aturan dari Dinas untuk tidak membawa HP ke sekolah.
“Mereka mendukung, mengerti. Ya memang betul HP bisa bantu belajar, tapi kan ada solusinya,” ucapnya.
Baca Juga:Serukan Tolak RKUHP, Ratusan Mahasiswa Geruduk DPRD JabarImbas Larangan Gawai, Begini Cara Siswa di Cimahi Adaptasi di Sekolah!
Ayi menjelaskan, untuk menunjang pembelajaran yang memerlukan akses informasi dari internet, SMPN 8 Cimahi menyediakan fasilitas laboratorium komputer.
“Kami punya empat lab di atas. Guru diperbolehkan membawa siswa ke lab untuk mencari materi pengganti yang biasanya diakses lewat HP,” tuturnya.
Sementara untuk materi biasa, siswa diarahkan kembali ke buku teks.
“Jadi tidak melarang tanpa solusi. Pembelajaran tetap bisa berjalan,” kata dia.
Menariknya, Ayi juga mengamati perubahan dalam perilaku sosial siswa sejak larangan HP diberlakukan.
