JABAR EKSPRES – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Banjar berupaya meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini melalui penerapan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) di Raudlatul Athfal (RA).
Hal ini disampaikan secara tegas oleh Kepala Kantor Kemenag Kota Banjar, Ahmad Fikri Firdaus dalam sambutannya pada pembukaan Rapat Kerja Daerah (RAKERDA) V dan Workshop Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Konsep dan Implementasi yang diselenggarakan oleh Pengurus Daerah Ikatan Guru Raudlatul Athfal (PD IGRA) Kota Banjar, Kamis (24/7/2025).
Fikri Firdaus membuka acara dengan mengucapkan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat. “Pengurus Daerah IGRA Kota Banjar, dan seluruh guru RA harus memiliki komitmen bersama untuk meningkatkan mutu pendidikan Islam usia dini,” katanya.
Baca Juga:Capaian Imunisasi Cimahi Masih di Bawah Target Nasional, Ini Langkah Pemkot!Usut Korupsi Pengadaan Mobil Lab COVID-19, Kantor Dinkes KBB Digeledah!
Ia berharap forum ini menjadi sarana perbaikan berkelanjutan dan inspiratif guna mewujudkan pembelajaran yang lebih kontekstual, adaptif, dan bermakna di setiap RA. Dalam paparannya, Fikri Firdaus menjelaskan esensi pembelajaran mendalam sebagai pendekatan yang jauh melampaui hafalan.
“Anak tidak hanya menerima informasi, tetapi diajak terlibat aktif, mengeksplorasi, dan mengaitkan pelajaran dengan pengalaman sehari-hari,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa di RA, pendekatan ini harus diwujudkan dalam kegiatan yang membangun rasa ingin tahu, memperkuat nilai-nilai keislaman, dan mengembangkan karakter sejak dini.
“Prinsip belajar yang sadar, bermakna, dan menyenangkan sangat cocok untuk usia dini yang masih berada dalam tahap tumbuh-kembang. Ini adalah langkah penting menuju pembentukan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia,” imbuhnya.
Mengenai implementasi praktis, Kepala Kemenag memberikan contoh konkret yang dapat diadopsi guru RA. “Guru RA dapat mengadopsi pembelajaran berbasis pengalaman, berbasis pertanyaan, atau berbasis proyek dalam kegiatan sehari-hari,” jelasnya.
Ia menyebutkan contoh seperti menanam tanaman untuk mengenalkan konsep ciptaan Allah, atau membuat kerajinan sederhana yang melibatkan kerja sama dan tanggung jawab.
“Setiap aktivitas menjadi peluang untuk menanamkan nilai Islami dan memperkuat karakter anak. Dengan pendekatan ini, anak belajar melalui proses, bukan sekadar hasil. Mereka dibimbing untuk berpikir, merasakan, dan bertindak dengan kesadaran,” kata dia.
