JABAR EKSPRES – Perubahan iklim dan cuaca ekstrem mendorong petani di Kota Bandung mengubah pola tanam dan panen mereka. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung menyebut, para petani kini memilih mempercepat budidaya setelah panen untuk menghindari risiko kemarau panjang.
“Beberapa petani sudah berhitung. Begitu panen langsung tanam lagi karena takut kemarau. Ini bikin pola tanam terganggu,” kata Kepala DKPP Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar kepada Jabar Ekspres, belum lama ini.
Menurut dia, kondisi ini menyebabkan panen yang seharusnya tinggi menjadi tidak optimal. “Kalau hujan atau panas ekstrem datang di waktu yang salah, hasil pertanian bisa terganggu besar,” imbuhnya.
Baca Juga:3 Rumah Hangus Dilalap Api di Cimahi, Diduga Akibat Korsleting ListrikBakal Rapat Bareng Wali Kota dan Bupati, Pramono Anung Siap Sulap Lahan Mangkrak?
Untuk mengantisipasi risiko gagal panen, Pemkot Bandung memberikan sejumlah dukungan, termasuk asuransi pertanian. Pihaknya menyiapkan kompensasi bagi para petani yang gagal panen.
“Panen seharusnya tinggi, tapi sekarang keganggu karena pola tanam menyesuaikan iklim. Jadi tentu saja bakal terdampak (peralihan) hujan atau panas itu, terhadap produk pertanian,” ujarnya
“Selain petani dapat kompensasi. Kami juga beri bantuan bibit, benih, dan sedang siapkan pupuk untuk petani sawah,” tuturnya.
Selain itu, program pertanian lokal seperti Buruan SAE ikut difungsikan sebagai jalur pendampingan dan distribusi bibit. Pemkot juga membantu menyusun jadwal tanam agar petani bisa menyesuaikan dengan harga pasar.
“Misalnya, harga cabai dan jengkol tinggi di akhir tahun, kami bantu petani tahu kapan waktu tanam terbaiknya,” pungkasnya.
