JABAR EKSPRES – Mesin pengolahan sampah dengan teknologi pembakaran atau insinerator diklaim memberi dampak positif. Selain mampu menangani masalah tumpukan sampah di kewilayahan, dampak dari polusi pun saat ini sudah mampu ditekan.
Setelah sebelumnya mendapatkan kritik lantaran timbulkan polusi udara, mesin yang berada di Pasar Ciwastra pun sempat diganti dengan mesin yang baru. Mesin insinerator baru yang beroperasi setahun lebih ini diklaim meminimalisir masalah tersebut.
Operator mesin insinerator dari PT Wisanggeni, Danu menjelaskan, saat ini polusi yang dihasilkan akibat pembakaran sampah tidak terlalu tinggi. Ada penurunan polusi yang terjadi lantaran menggunakan metode cukup berbeda perihal minimalisir asap.
Baca Juga:Tumbuhkan Ekonomi Secara Merata, Wakil Ketua MPR Dukung Koperasi Desa Merah PutihLakukan Asusila pada Anak di bawah Umur, Seorang Pengurus Tempat Ibadah di Bandung Berhasil Dibekuk Polisi
“Sekarang asap yang keluar sudah aman. Dahulu kurang aman. Sekarang ada proses (filter) asap menjadi uap,” ungkap Danu kepada Jabar Ekspres di lokasi, Selasa (22/7).
“Sekarang sudah berjalan setahun lebih, sebelumnya memakai corong. Sekarang asapnya tidak begitu banyak karena diredam ke bawah. Bisa menekan 70 persen. Keluar paling 20 persen asap,” imbuhnya.
Pantauan Jabar Ekspres, selain memberi dampak positif dari proses pengolahan yang minim polusi, tampak timbulan sampah sudah makin berkurang. Diketahui TPS yang berada di belakang Pasar Ciwastra ini menampung seluruh sampah dari Kecamatan Buah Batu.
“Per hari kalau kering minimal 6 ton bisa diolah. Kalau basah bisa lebih. Jadi per hari bisa lebih 6 ton sampah. Kalau tidak bisa diolah, ya, dibuang ke TPS untuk diangkut ke TPA Sarimukti,” ujarnya.
“Pertama-tama kami masukkan dulu organik dan anorganik. Kami pilah juga takut ada sampah berbahaya yang ada pecahan kaca atau botol kaca. Baru dimasukkan ke sini. Lalu abu nanti bisa diolah menjadi pupuk juga,” sebut Danu.
Akan tetapi, menurutnya proses pemilahan tersebut cukup memakan waktu. Dia lantas mengharapkan kesadaran masyarakat. Setidaknya lebih dahulu memilah dan memisahkan sampah organik dan anorganik.
“Jadi berharap mah kesadaran warga. Misal bekas kaleng dan kayu-kayu juga dipilah. Kalau sudah terpisah mah kan bener bisa cepat dibakarnya,” pungkasnya.
Reporter: Muhammad Nizar
