Di Antara Puing dan Janji, Hilman dan Istrinya Pilih Bertahan di Tengah Bahaya

Di tengah ketidakpastian relokasi, sepasang lansia penyintas longsor ini memilih tetap tinggal di rumah sederh
Di tengah ketidakpastian relokasi, sepasang lansia penyintas longsor ini memilih tetap tinggal di rumah sederhana yang mereka bangun sendiri. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Langit Kampung Gintung sore itu mendung. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah yang bercampur kenangan pahit. Dari kejauhan, hanya terdengar suara ayam berkokok dan sesekali suara cangkul membelah tanah.

Kampung yang dulu ramai dengan suara anak-anak mengaji dan tawa ibu-ibu menjemur pakaian kini berubah menjadi sunyi, nyaris seperti desa mati.

Setahun lebih telah berlalu sejak bencana longsor dan banjir bandang meluluhlantakkan Desa Cibenda, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat. Tapi bagi Hilman (70) dan istrinya, Aidah (63), waktu seakan berhenti di malam tarawih itu tepat pada tanggal 24 Maret 2024.

Baca Juga:Prestasi Mendunia! Akademi Persib Cimahi U-13 Ukir Sejarah di Turnamen Sepak Bola InternasionalSoroti Nasib BIJB Kertajati, Komisi III Tunggu Hasil Investigasi

“Kami baru selesai salat tarawih di Masjid Al Hidayah. Hujannya deras sekali. Saya sempat umumkan lewat speaker masjid, jangan pulang dulu. Tapi takdir berkata lain,” ujar Hilman pelan, matanya menerawang ke arah puing-puing bekas masjid yang kini hanya tersisa pondasi dan beberapa batako berserakan.

Hilman tak pernah lupa bagaimana tanah itu tiba-tiba bergerak, lalu menghempaskan semuanya. Rumah, masjid, madrasah, dan puluhan jiwa tertelan dalam hitungan detik. Ia sendiri tertimbun lumpur, hanya bagian kepalanya yang terlihat.

“Saya masih sadar waktu itu. Tubuh saya tidak bisa digerakkan. Saya teriak minta tolong. Alhamdulillah, Allah masih kasih umur,” kenangnya.

Ia mengalami luka parah, tulang rusuk bergeser, wajah lebam, dan harus dirawat selama dua pekan di RS Hasan Sadikin Bandung. Istrinya juga selamat, meski mengalami dislokasi kaki dan luka di kepala. Biaya rumah sakit mencapai Rp12 juta. Dari pemerintah, mereka hanya menerima bantuan Rp10 juta.

“Sisanya kami tambah sendiri. Tapi itu bukan soal uang, Nak. Kami kehilangan rumah, masjid, dan sebagian nyawa tetangga yang sudah seperti saudara sendiri,” ucap Aidah sambil mengusap ujung kerudungnya.

Kini, sepasang lansia itu tinggal di sebuah rumah kayu kecil yang mereka bangun tepat di bawah bekas rumah lamanya. Rumah itu berdiri di zona merah, wilayah rawan bencana yang seharusnya dikosongkan. Tapi bagi Hilman dan Aidah, tidak ada tempat yang lebih bermakna dari tanah ini.

0 Komentar