Di Antara Puing dan Janji, Hilman dan Istrinya Pilih Bertahan di Tengah Bahaya

Di tengah ketidakpastian relokasi, sepasang lansia penyintas longsor ini memilih tetap tinggal di rumah sederh
Di tengah ketidakpastian relokasi, sepasang lansia penyintas longsor ini memilih tetap tinggal di rumah sederhana yang mereka bangun sendiri. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

“Saya sudah 49 tahun tinggal di sini. Mau pindah ke mana lagi? Di sini saya dilahirkan, dibesarkan, dan membesarkan anak-anak saya,” kata Hilman lirih.

Mereka sempat mengungsi selama beberapa bulan di rumah saudara, namun hati mereka terus terpanggil pulang. Bukan karena keras kepala, tapi karena di sinilah mereka dilahirkan, dibesarkan, dan membesarkan anak-anak mereka.

“Kami sudah tinggal di sini hampir 50 tahun. Di sinilah akar kami. Kalau pindah ke tempat baru, hidup seperti dimulai dari nol,” kata Hilman.

Baca Juga:Prestasi Mendunia! Akademi Persib Cimahi U-13 Ukir Sejarah di Turnamen Sepak Bola InternasionalSoroti Nasib BIJB Kertajati, Komisi III Tunggu Hasil Investigasi

Pasca bencana terjadi melanda Kampung Gintung, pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB) sempat menjanjikan relokasi bagi 30 rumah terdampak berat.

Lahan seluas 6.000 meter persegi sudah disurvei dua kali. Namun hingga kini belum ada kesepakatan soal harga lahan. Proses relokasi pun mandek.

“Kalau relokasi terlalu jauh, kami khawatir sulit mencari penghidupan baru. Bertani di sini saja sudah susah,” ujar Hilman.

Pemerintah menjanjikan bantuan sebesar Rp60 juta untuk rumah rusak berat dan Rp30 juta untuk rusak sedang. Namun banyak warga seperti Hilman lebih memilih bantuan dalam bentuk uang tunai agar bisa membangun rumah sendiri di lahan mereka.

Di tengah reruntuhan dan kenangan yang menyakitkan, Hilman dan istrinya masih menyimpan harapan. Harapan sederhana, yaitu bisa hidup tenang di kampung sendiri, tanpa harus menunggu janji-janji yang entah kapan ditepati.

“Kalau memang tak bisa relokasi, tolong bantu kami bangun rumah yang lebih kuat. Biar kami tak tidur dalam ketakutan setiap hujan turun,” tandasnya.

Kepala Desa Cibenda, Rohman, mengatakan sekitar 50 KK sempat mengungsi di GOR desa. Namun kini hampir semuanya memilih kembali ke rumah saudara atau membangun rumah seadanya di bekas lokasi lama.

Baca Juga:Kopdes Cileunyi Wetan Jadi Percontohan, Bupati Bandung akan Sukseskan Program Koperasi Merah Putih di WilayahnyaPGN Percepat Penguatan Infrastruktur Gas, Jawab Tantangan Distribusi dan Akses Energi Nasional

“Warga masih trauma. Tapi mereka juga tidak mau jauh dari kampung. Sulit kalau hidup harus dimulai dari nol di tempat yang asing,” kata Rohman. (Wit)

0 Komentar