Bayang-Bayang Kebijakan dan Persaingan Ketat
Di balik krisis ini, Wawan menunjuk kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, sebagai salah satu penyebab. Pada tahun ajaran 2025, kebijakan penerimaan murid baru di sekolah negeri dengan kuota 50 siswa per kelas membuat sekolah swasta seperti Tamansiswa sulit bersaing. “Posisi kita di tengah kota, dikelilingi sekolah negeri dan swasta lain. Dampaknya terasa sekali,” keluh Wawan.
Ia mengaku bingung harus berbuat apa, hanya bisa berharap pemerintah memberikan perhatian lebih pada nasib sekolah swasta. Jika dalam seminggu ke depan jumlah pendaftar tidak bertambah, Wawan terpaksa membuat keputusan pahit: menutup sementara operasional kelas satu untuk tahun ini. “Mau tak mau harus tutup sementara. Kita enggak ada siswa. Gulung tikar,” ucapnya dengan nada getir.
Sekolah hanya akan menyisakan 30 siswa di kelas dua dan tiga, sementara calon siswa tunggal itu akan dikembalikan ke orang tuanya. “Saya berharap pemerintah memberi kompensasi untuk sekolah swasta, misalnya dengan memberdayakan kami,” pintanya, mencoba mencari secercah harapan di tengah keputusasaan.
Warisan Ki Hajar yang Kian Memudar
Baca Juga:DPRD Cimahi Lirik Inovasi Ubah Sampah Jadi BBM di Bank Sumber Daya Sampah Induk Melong RW 26 Prihatin Soal Kasus Penjualan Bayi, Bupati Bandung Instruksikan Camat dan Kades Tingkatkan Pengawasan
Perguruan Tamansiswa bukan sekadar institusi pendidikan; ia adalah monumen sejarah yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta dengan nama National Onderwijs Instituut Taman Siswa. Cabang Bandung sendiri mulai berdiri pada 1926, menjadi salah satu pilar pendidikan yang mengusung semangat “Tut Wuri Handayani”—mendorong dari belakang dengan penuh kasih.
Logo Tamansiswa bahkan diadopsi oleh Dinas Pendidikan, dan kata “siswa” yang kini melekat pada pelajar Indonesia berasal dari visi besar Ki Hajar. Namun, ironisnya, warisan mulia ini kini berada di ujung tanduk. Wawan tak bisa menyembunyikan kepedihan saat berbicara tentang situasi ini. “Ieu teh warisan Ki Hajar Dewantara. Miris, makanya,” ujarnya.
Ia teringat masa ketika pemerintah provinsi masih memberikan bantuan operasional, meski tak seberapa. Kini, bantuan itu tak ada lagi, dan pasca pandemi, jumlah siswa terus merosot. Meski begitu, hingga tahun lalu, SMK Tamansiswa masih mampu bertahan dengan satu kelas penuh. Kini, harapan itu kian pudar.
