TERIK belum reda siang itu ketika Jalan Asia Afrika dipenuhi orasi dan pekik solidaritas. Spanduk, poster, dan suara yang menggema dari pengeras suara mengisi ruang antara Gedung Merdeka dan deretan bangunan tua kolonial. Tapi yang membedakan aksi solidaritas Palestina kali ini adalah kehadiran langsung suara dari Gaza.
Muhamad Nizar, Jabar Ekspres.
Bashar Zaghmout, Sekretaris Jenderal Global Youth Coalition For Quds and Palestine, berdiri di tengah kerumunan. Wajahnya tenang, sesekali menyapu peserta aksi dengan pandangannya. Dia bukan hanya datang membawa pesan, tapi juga luka dari kampung halamannya yang dilanda genosida.
“Kedatangan kami bukan kunjungan ke negara sahabat. Indonesia kami anggap kampung sendiri, ini bukan kunjungan solidaritas Palestina saja. Ini kunjungan kerja kemanusiaan. Kerja pergerakan,” ujarnya kepada Jabar Ekspres, melalui Syauqi Hafiz sebagai juru bahasa, belum lama ini.
Baca Juga:Pemkot Bandung Izinkan Study Tour ke Luar Jawa Barat, Tegas Larang Sekolah Jual-Beli Perlengkapan5 Hektare Sawah di Padalarang Gagal Panen Akibat Irigasi Terputus
Bersama Wakil Sekretaris Jenderal Yusuf, keduanya menegaskan bahwa kehadiran mereka bukan sebatas simbolik. Mereka datang membawa semangat kerja lintas batas, menyuarakan pentingnya gerakan bersama untuk membela hak rakyat Palestina.
“Kalau Palestina tertekan, maka seluruhnya juga bakal terkena risiko juga. Setiap kegiatan kami di sini menjadi kegiatan kerja memajukan kerja-kerja kemanusiaan,” tegasnya.
Kehadiran mereka seperti mempertemukan dua ujung perlawanan. Medan luka ke medan suara. Bagi Bashar, Indonesia tak lagi asing. Dirinya menyebut negeri ini istimewa, bahkan terdepan dalam menyuarakan pembelaan terhadap Palestina.
“Indonesia terkenal aksi sejuta umat,” katanya.
“Baik itu dari kalangan Islam dan non-Muslim, seluruh kalangan lintas golongan terbukti memberi kontribusi membela Palestina. Ini yang paling istimewa dari Indonesia,” lanjutnya.
Namun di balik apresiasi itu, Bashar tak menutupi kenyataan getir dari tanah kelahirannya. Keadaan memprihatinkan tak hanya hanya di Gaza, tapi terjadi di Tepi Barat dan Yerusalem.
“Di sana sudah dua pekan tidak ada salat berjamaah secara proper dan kumandang azan,” ujarnya.
Dirinya menjelaskan bagaimana serangan brutal kini merata, bukan hanya di Gaza, tapi juga di Tepi Barat. Bahkan penjajah Zionis bukan hanya menghancurkan wilayah, tapi juga memindahkan penduduk Gaza ke kamp pengungsian khusus.
