Yamaha tampaknya sering melakukan pendekatan trial-and-error di pasar. Mereka merilis model A, B, dan C secara bersamaan. Jika model A laku, akan dilanjutkan. Jika B dan C tidak laku, akan diganti dengan model baru. Pola ini terus berulang sampai tidak ada lagi model yang bisa “dikanibalisasi”. Dampaknya, produk mereka saling tumpang tindih dan membuat konsumen bingung, terutama konsumen awam atau orang tua yang cenderung memilih produk yang “pasti-pasti saja”.
Dan produk yang dianggap “pasti-pasti saja” oleh banyak konsumen hingga saat ini adalah Honda Beat. Modelnya stabil sejak dulu, teknologinya tidak berubah drastis, dan kesannya “aman”. Padahal, jika dilihat secara objektif di lapangan, Honda Beat generasi sekarang sudah tidak seaman dan seirit dahulu. Namun, karena pola konsumsi pasar sudah terbentuk, kepercayaan itu tetap terjaga.
Akhirnya, situasi pasar seperti ini membentuk dua pendekatan berbeda:
Yamaha tetap agresif dengan strategi kanibalisasi dan inovasi,
Honda tetap konservatif dengan fokus pada konsistensi dan kestabilan.
Jadi, selama pola ini tidak berubah, dalam beberapa tahun ke depan Honda kemungkinan besar akan terus memimpin pasar, sementara Yamaha akan tetap berada di posisi kedua, mengekor, namun tetap berhasil menciptakan tren dan inovasi baru.
SC: Fuse Box Moto
