Sayangnya, produk seperti Jagung Turbo, camilan dengan bumbu kuat dan rasa yang ‘nakal’, tidak termasuk dalam strategi baru tersebut.
Penurunan penjualan Jagung Turbo sudah mulai terasa bahkan sebelum akuisisi. Munculnya banyak kompetitor dengan varian rasa baru, kemasan modern, serta strategi pemasaran digital yang lebih agresif membuat posisi Turbo semakin terdesak.
Meskipun memiliki penggemar setia, Jagung Turbo dinilai tidak cukup kompetitif di pasar camilan ringan yang semakin ketat. Terlebih lagi, memproduksi snack seperti ini memerlukan biaya operasional yang tidak sedikit. Jika volume penjualan tidak lagi signifikan, perusahaan harus memilih: tetap memproduksi dengan risiko merugi, atau menghentikan produksi sepenuhnya.
Baca Juga:Mengungkap Penipuan Aplikasi 68EA Terbukti Scam Berkedok Investasi KriptoPanduan Lengkap Cek Air Radiator Tanpa Buka Tutup Radiator
Ada pula spekulasi bahwa naiknya biaya produksi, harga bahan baku, serta tantangan distribusi turut menjadi faktor penyebab keputusannya dihentikan. Belum lagi, tekanan dari perusahaan-perusahaan besar yang memiliki kekuatan distribusi nasional dan anggaran promosi yang jauh lebih besar turut mempersempit ruang gerak produk seperti Turbo.
Akhirnya, tanpa pengumuman resmi, Jagung Turbo menghilang begitu saja dari rak-rak toko. Tidak ada pernyataan penarikan produk, tidak ada salam perpisahan, hanya senyap dan hilang perlahan. Kini, camilan legendaris ini sudah sangat jarang, bahkan hampir tidak ditemukan lagi di minimarket maupun supermarket.
Jagung Turbo menjadi salah satu contoh nyata bagaimana perubahan strategi bisnis, persaingan pasar, dan tren konsumen dapat mengakhiri perjalanan sebuah produk yang dulunya sangat dicintai.
Saat ini, masih ada beberapa penjual di e-commerce yang mengklaim menjual Jagung Turbo. Namun, sebagian besar hanyalah stok lama atau produk dari merek lain yang mirip secara bentuk namun bukan produk asli. Salah satu contohnya dapat ditemukan di Shopee, di mana seorang pembeli berkomentar:
“Aku kira ini jajanan jagung jadul, ternyata isinya lain. Isinya malah seperti snack ‘ribut’. Kecewa, bungkusnya juga bukan merek yang sama.”
Komentar tersebut menggambarkan kekecewaan yang cukup umum, banyak yang berharap menemukan camilan nostalgia, tetapi justru mendapat produk tiruan. Intinya, produk-produk yang dijual tersebut bukan Jagung Turbo asli, melainkan sekadar camilan serupa.
