Permainan warnanya, cahaya senjanya, aurora, hingga lanskap kota-kota Eropa, semuanya bukan hanya indah secara estetika, tetapi juga relevan dengan kondisi batin para karakternya. Kita bisa melihat perasaan para tokoh melalui langit yang mendung, jalanan yang kosong, hingga air mata yang jatuh di lanskap bersalju Artik.
Skoring musiknya juga luar biasa. Penonton pasti sepakat bahwa film ini memang sebaik itu. Soundtrack-nya tidak hanya menjadi latar musik, tetapi benar-benar menjadi jiwa dan napas dari tiap adegan.
Ketika kalian mungkin menonton film ini di bioskop kecil, di mana sistem suara biasanya hanya dominan dari arah layar. Meski duduk di barisan paling atas, kami tetap bisa merasakan getaran emosinya. Ada momen ketika musik muncul seperti bisikan yang sangat lembut, tepat pada waktunya, dan justru itu yang membuat emosi biasa pun meledak dengan kuat.
Baca Juga:3 Cara Ampuh Agar Aki Motor Baru Awet Seperti Aki Bawaan PabrikMotor Listrik Honda CUVE E Diskon Gila-Gilaan, Ini Penyebab Masih Sulit Laku
Yandy Laurens tampaknya benar-benar memahami kapan penonton membutuhkan ruang untuk berpikir, dan kapan mereka perlu ditemani musik agar bisa menangis. Bukan sekadar menangis, tapi tangisan yang melegakan, yang pecah. Semua elemen dalam film ini berhasil menyatu tanpa ada yang terasa kurang, terutama pada bagian tokoh Sore dan klimaks ceritanya.
Ending yang Out of The Box
Salah satu kekuatan tersembunyi dari film Sore: Istri dari Masa Depan adalah pada bagian akhirnya yang tidak klise. Ending-nya terasa segar. Bukan jenis akhir yang biasa kita temukan. Mungkin ada film lain yang serupa, tetapi jumlahnya tidak banyak. Film ini tidak membutuhkan adegan tangis berlebihan atau twist yang dramatis. Cukup dengan satu keputusan tenang yang justru membuat kita terdiam dan keluar dari bioskop dalam keadaan merenung. Bagi kami pribadi, itu jauh lebih berdampak.
Film ini berhasil mengajak kita merefleksikan kehidupan, tentang cinta, waktu, dan semua penyesalan yang mungkin pernah kita alami. Dan ya, kami bisa dengan yakin mengatakan bahwa ini adalah salah satu film Indonesia terbaik tahun ini, sekaligus memiliki epilog atau akhir cerita terbaik. Bukan karena hype, tetapi karena semua elemennya berbicara dalam satu suara yang sama: penuh perasaan, penuh makna, dan sepenuhnya jujur.
